ANDA ACEH | SAGOE TV – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi melantik 119 pengurus Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh masa khidmat 2026-2031 yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Banda Aceh, Sabtu (27/6/2026) malam.
Dalam kepengurusan baru PWNU Aceh tersebut, Teungku H Nuruzzahri Yahya atau Waled NU dipercaya sebagai Rais Syuriyah, sementara posisi Ketua Tanfidziyah dipercayakan kepada Teungku H Faisal Ali (Lem Faisal).
Pelantikan pengurus PWNU Aceh 2026-2031 dilakukan langsung oleh Rais Syuriah PBNU KH Muhammad Cholil Nafis PhD dan dihadiri Wakil Ketua Umum PBNU Dr KH Amin Said Husni dan Wakil Sekjen PBNU Drs KH Amir Ma’ruf bersama para ulama, akademisi, serta tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Aceh.
Penetapan kepengurusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan PBNU Nomor 189/PB.01/A.II.01.44/99/04/2026 tentang pengesahan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh periode 2026-2031.
Rektor UIN Ar-Raniry Jabat Katib Syuriyah PWNU Aceh
Dalam kepengurusan baru tersebut, Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Mujiburrahman dipercaya menjabat Katib Syuriyah. Berdasarkan struktur organisasi, Katib Syuriyah memiliki peran penting dalam administrasi, dokumentasi, dan penyusunan keputusan-keputusan keagamaan. Mujiburrahman akan mendampingi Rais Syuriyah dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut.
Masuknya Mujiburrahman ke jajaran Syuriyah dinilai memperkuat representasi kalangan akademisi dalam kepemimpinan NU Aceh. Sebelumnya, ia pernah menjabat Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Aceh periode 2021-2026 dan menjadi anggota A’wan PWNU Aceh pada periode yang sama.
Saat ini, ia juga menjabat Wakil Ketua Dewan Penasehat Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Aceh. Mujiburrahman sendiri telah menjadi kader Nahdliyin sejak di bangku kuliah dengan mengikuti Mapaba pada PMII Banda Aceh pada tahun 1992.
Mujiburrahman mengatakan keterlibatan akademisi dalam kepengurusan NU merupakan ikhtiar untuk memperkuat sinergi antara tradisi keulamaan dan pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.
“NU sejak awal dibangun di atas tradisi ilmu. Kehadiran akademisi bukan untuk menggantikan peran ulama, melainkan memperkuat kerja-kerja keumatan melalui pendekatan yang lebih sistematis, berbasis riset, dan mampu menjawab tantangan zaman,” kata Mujiburrahman usai pelantikan.
Menurutnya, para akademisi dapat menjadi mitra strategis para alim ulama dalam menerjemahkan gagasan dan nilai-nilai keislaman ke dalam program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Para alim ulama memiliki otoritas moral dan keagamaan yang sangat kuat. Akademisi dapat memberikan kontribusi melalui kajian, inovasi, penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, hingga perumusan kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan masyarakat. Sinergi keduanya akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan Aceh,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara ulama dan kalangan intelektual menjadi modal penting bagi NU untuk menjaga moderasi beragama, memperkuat pendidikan, dan merawat persatuan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
“Yang kita bangun adalah kemitraan ilmu dan hikmah. Ulama menjaga otoritas keagamaan dan tradisi, sementara akademisi menghadirkan metodologi, penelitian, dan inovasi. Ketika keduanya berjalan bersama, manfaatnya akan kembali kepada masyarakat luas,” tutur Mujiburrahman.[]




















