BANDA ACEH | SAGOETV – Hubungan antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Banten bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan warisan sejarah yang dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat persatuan bangsa Indonesia saat ini. Pesan tersebut mengemuka dalam podcast bertajuk “Dari Aceh ke Banten: Jejak Persaudaraan Dua Kesultanan Nusantara” yang diselenggarakan Sagoetv bekerja sama dengan Pusat Kajian Strategis Kesultanan Nusantara di Studio Sagoetv, Banda Aceh, Jumat (31/7).
Podcast ini menghadirkan dua narasumber, yakni keturunan ke-16 Sultan Maulana Hasanuddin, Tubagus Safarudin, serta perwakilan Keluarga Besar Kaum Alaidin Kesultanan Aceh Darussalam, Tuanku Mohammad Iqbal. Keduanya mengulas hubungan historis antara dua kesultanan besar yang telah terjalin sejak berabad-abad silam melalui jalur perdagangan, dakwah Islam, diplomasi, hingga perjuangan bersama menghadapi kolonialisme Eropa.
Tubagus Safarudin menegaskan bahwa kedekatan Aceh dan Banten bukan sekadar asumsi atau “cocoklogi” sejarah, melainkan memiliki dasar historis yang kuat.
“Menurut catatan sejarah, hubungan Aceh dan Banten itu seperti kakak beradik. Silsilahnya bertemu pada tokoh yang dikenal dengan banyak nama, yaitu Ratu Bagus Pasai, Fatahillah, Falatehan, Wong Agung Sabrang, hingga Maulana Hasanuddin. Nama boleh berbeda, tetapi merujuk pada sosok yang sama,” ujarnya.
Menurutnya, keberagaman penyebutan tersebut menunjukkan kekayaan sejarah Nusantara yang diwariskan oleh berbagai daerah dan bangsa, sekaligus menjadi bukti eratnya hubungan antarkerajaan Islam di Nusantara.
Sementara itu, Tuanku Mohammad Iqbal menjelaskan bahwa hubungan Aceh dan Banten tidak hanya dibangun atas dasar hubungan kekeluargaan, tetapi juga diwujudkan dalam kerja sama politik dan militer menghadapi kekuatan kolonial.
Ia menyebutkan bahwa dalam catatan ulama besar Aceh, Syekh Nuruddin ar-Raniri, terdapat surat-menyurat antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Banten. Bahkan pada masa Sultan Mansur Syah, kedua kesultanan disebut pernah sama-sama mengajukan permohonan kepada Khilafah Utsmaniyah untuk memperoleh dukungan dalam menghadapi kekuatan Belanda di Batavia.
“Ini menunjukkan bahwa sejak dahulu kerajaan-kerajaan di Nusantara telah membangun jaringan diplomasi dan solidaritas untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya,” jelasnya.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber juga menegaskan bahwa berbagai simbol sejarah, termasuk bendera Kesultanan Aceh Darussalam (Alam Peudeuëng) maupun bendera Kesultanan Banten, merupakan bagian dari warisan sejarah Nusantara yang harus dipahami secara proporsional.
Simbol-simbol tersebut bukanlah identitas kelompok politik ataupun gerakan separatis, melainkan peninggalan sejarah yang mencerminkan identitas, kebudayaan, dan peradaban kerajaan-kerajaan Nusantara sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Host sagoetv dalam penutupan podcast menekankan bahwa sejarah hubungan antarkesultanan memberikan pelajaran penting bagi generasi masa kini. Jauh sebelum Indonesia merdeka, berbagai kerajaan di Nusantara telah membangun jejaring perdagangan, diplomasi, pertahanan, dan penyebaran Islam yang melintasi batas-batas wilayah.
Warisan sejarah tersebut menjadi bukti bahwa semangat persatuan telah tumbuh dari kesadaran bersama untuk saling mendukung dan menghadapi berbagai tantangan pada zamannya.
Melalui podcast ini, Sagoetv berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin memahami bahwa sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Persaudaraan yang pernah terjalin antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Banten menjadi pengingat bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika dibangun di atas nilai persaudaraan, kerja sama, dan cita-cita bersama demi Indonesia yang semakin kokoh dan bersatu.[]




















