• Tentang Kami
Monday, August 24, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SAGOE TV by SAGOE TV
August 24, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah? Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Lima belas volume sejak Februari 2026 sudah memberi SPS Revival cukup banyak pengalaman. Seniman, mahasiswa, pelaku tradisi, musisi, pekerja kreatif, komunitas skateboard, dan warga yang datang karena penasaran telah bertemu dalam berbagai situasi. Frekuensi kegiatan pun meningkat, dengan pertemuan di Arena Skate Darussalam dan Arena Skate Lamprit.

Pertumbuhan semacam ini membawa pekerjaan yang sebelumnya mudah luput dari perhatian. Jadwal harus disusun, orang perlu dihubungi, karya dipersiapkan, ruang dijaga, peralatan tersedia, dokumentasi disimpan, dan uang dicatat. Ketika orang yang terlibat semakin banyak, mengandalkan ingatan dan inisiatif personal mulai tidak cukup.

Volume 13 memberi contoh tentang bagaimana sebuah agenda harus diperlakukan ketika keadaan berubah. Peusijuek yang semula dijadwalkan pada 15 Agustus 2026, bertepatan dengan 21 tahun perdamaian Aceh, tertunda karena situasi keamanan. Ritual tersebut kemudian terlaksana pada Volume 15 di Arena Skate Lamprit. Sebuah pekerjaan yang tertunda tetap memiliki tempat dalam rangkaian kerja jika ada yang mencatat, menjaga komunikasi, dan mengembalikannya ketika kondisi memungkinkan.

BACA JUGA

Ranup Lam Puan: Tradisi yang Terus Bertumbuh

Makna Juang, Antara Hamlet dan Teuku Umar

Volume 14 menunjukkan hal berbeda. SPS kembali ke Arena Skate Darussalam setelah terakhir menggunakan ruang itu pada Volume 1 — 8. Mahasiswa yang baru pulang dari kampung ikut hadir. Mahasiswa seni dari Universitas Syiah Kuala dan Universitas Bina Bangsa Getsempena turut mengambil bagian. Kegiatannya tidak sepenuhnya terikat pada susunan acara. Orang tampil, mencoba, berbicara, dan merespons situasi yang muncul.

Spontanitas tetap diperlukan dalam ruang kreatif. Namun semakin sering kegiatan berlangsung, improvisasi perlu bertemu dengan kerja produksi yang tertib. Bukan untuk membuat SPS formal, tetapi agar energi yang muncul tidak selalu berakhir bersama acara.

Volume 15 memperlihatkan persoalan itu dengan jelas. Rencana awal mencakup street culture, hikayat, dan sejumlah praktik kreatif nonpertunjukan. Tidak semuanya terlaksana. Mahasiswa seni yang berlatih bersama Sanggar Seni Linge tampil membawa Ranup Lam Puan dan Guel.

Produksi yang sehat memang harus mampu membedakan gagasan, komitmen, kesiapan pelaku, kebutuhan teknis, dan kapasitas waktu. Tidak semua yang direncanakan harus dipaksakan masuk ke panggung. Yang lebih penting adalah keputusan yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ranup Lam Puan juga mengajukan persoalan kebudayaan yang lebih luas. Tradisi tidak cukup dipahami sebagai bentuk yang harus dipertahankan. Pengetahuan di balik bentuk tersebut perlu dipahami agar generasi baru dapat berhubungan dengannya secara lebih sadar.

Latar budaya penting, tetapi tidak otomatis membuat sebuah karya relevan. Anak muda sekarang hidup bersama musik global, platform digital, gim, film, desain, teknologi, dan kecerdasan buatan. Mereka tidak perlu memilih antara budaya Aceh dan dunia global. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk bekerja dengan keduanya.

Itu berarti pengetahuan tradisi perlu bertemu dengan riset, teknik artistik, dokumentasi, teknologi, produksi, dan cara membaca konteks. Kalau tradisi hanya diwariskan sebagai daftar larangan, generasi baru bisa kehilangan alasan untuk mempelajarinya. Sebaliknya, jika hanya mengejar bentuk global tanpa memahami pengetahuan sendiri, yang tersisa juga mudah menjadi permukaan.

Guel yang hadir melalui gerak, suling, dan tepukan di ruang skate memberi contoh yang cukup konkret. Praktik tradisi dapat hadir dalam konteks baru tanpa harus kehilangan seluruh dasar pengetahuannya. Yang menentukan bukan kemewahan produksinya, tetapi penguasaan pelaku terhadap apa yang mereka bawa.

Ada pelajaran yang lebih sederhana dari Volume 15. Setelah kegiatan selesai, sampah masih tertinggal di Arena Skate Lamprit. Komunitas skateboard menegur. Beberapa orang kembali membersihkan arena.

Tidak perlu dibesarkan. Kalau memakai ruang bersama, jaga ruangnya. Kalau kegiatan selesai, bereskan. Kebiasaan seperti ini menunjukkan kualitas kerja komunitas lebih baik daripada banyak pernyataan tentang profesionalisme.

Perkembangan Remaja Meunasah SPS sekarang juga perlu dibaca sebagai pekerjaan, bukan sekadar struktur. Rivaul mengurus foto, video, dan dokumentasi. Firmansyah dan Azril bergerak pada desain, konten kreatif, media sosial, dan publikasi. Muhammad Faiz Akbar mengisi sound engineering dan produksi musik. Aulia Syahputra dan Reza Maulana bergerak pada kurasi dan produksi. Bidang komunitas, kemitraan, fundraising, arsip, pengetahuan, administrasi, dan tata kelola masih perlu diperkuat.

Setiap bidang membutuhkan pekerjaan yang jelas, tenggat, evaluasi, dan ruang belajar. Anak muda tidak tumbuh karena diberi jabatan. Mereka tumbuh ketika dipercaya menyelesaikan pekerjaan, mengambil keputusan, dan menghadapi konsekuensinya.

Karena itu, peran Lingkar Wali dan para senior juga perlu bergeser. Pengalaman tetap dibutuhkan untuk menjaga arah, membuka akses, dan mendampingi. Namun pekerjaan sehari-hari harus semakin dipercayakan kepada generasi muda. Regenerasi tidak cukup dengan memberi kesempatan tampil. Ia membutuhkan kepercayaan untuk mengurus pekerjaan nyata.

Lima belas volume belum membuat SPS Revival selesai. Justru sekarang pekerjaan yang lebih konkret mulai terlihat: membuat pengalaman tidak hilang, memperbaiki cara kerja, memperjelas tanggung jawab, dan memberi generasi baru kesempatan mengembangkan kemampuannya.

Yang diwariskan kelak bukan hanya acara, tetapi kemampuan untuk membuat acara itu terjadi. Bukan hanya panggung, tetapi pengetahuan tentang cara menyiapkannya.

Generation to Generation akan terasa ketika pekerjaan benar-benar berpindah tangan, kesalahan menghasilkan perbaikan, dan orang yang datang hari ini mampu mengerjakan lebih banyak ketika kembali esok hari.[]

Ari J. Palawi

Tags: Ari J. PalawiBanda AcehKomunitasSeniSPSSPS Revival
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Ranup Lam Puan Tradisi yang Terus Bertumbuh
SENI

Ranup Lam Puan: Tradisi yang Terus Bertumbuh

by SAGOE TV
August 21, 2026
Makna Juang, Antara Hamlet dan Teuku Umar_Azril Ihksan
SENI

Makna Juang, Antara Hamlet dan Teuku Umar

by SAGOE TV
August 19, 2026
SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya
SENI

SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

by SAGOE TV
August 18, 2026
Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun
SENI

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

by SAGOE TV
August 7, 2026
Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran
SENI

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

by SAGOE TV
August 6, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

August 18, 2026
Ranup Lam Puan Tradisi yang Terus Bertumbuh

Ranup Lam Puan: Tradisi yang Terus Bertumbuh

August 21, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

August 17, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

August 20, 2026
SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

August 18, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

August 23, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Lhokseumawe-Penang Bakal Terhubung Ferry, ASDP Matangkan Jalur RoRo

Lhokseumawe-Penang Bakal Terhubung Ferry, ASDP Matangkan Jalur RoRo

August 19, 2026

EDITOR'S PICK

Mentan Amran Janji Pulihkan Sawah Terdampak Banjir di Aceh ke Gubernur Mualem

Mentan Amran Janji Pulihkan Sawah Terdampak Banjir di Aceh ke Gubernur Mualem

December 22, 2025
Rp2,6 Triliun Dana Bank Aceh Syariah: Simpanan Aman atau Peluang Terlewatkan?

Rp2,6 Triliun Dana Bank Aceh Syariah: Simpanan Aman atau Peluang Terlewatkan?

September 15, 2025
Ormawa FDK UIN Ar-Raniry 2026 Resmi Dilantik, Siap Jalankan Amanah Kepemimpinan

Ormawa FDK UIN Ar-Raniry 2026 Resmi Dilantik, Siap Jalankan Amanah Kepemimpinan

May 7, 2026
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Minta Pintu Tol Langsung ke Kota

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Minta Pintu Tol Langsung ke Kota

February 4, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.