Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Dosen UIN Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.
DALAM konteks GPS (Geo-Political System), berbagai isu muncul di dalam berbagai studi. Salah satunya adalah persoalan kebangkitan Cina sebagai pesaing utama negara Amerika Serikat. Saat ini, berbagai kajian dibuat untuk memahami dan mempersiapkan diri menghadapi Cina sebagai pelaku utama dalam tatanan dunia (world order). Bagi Amerika Serikat, kehadiran Cina tentu memberikan dampak sebagai kompetitor utama bagi negara tersebut. Karena itu, Cina menjadi salah satu ancaman utama bagi pengaruh global Amerika Serikat. Keadaan ini tentu memberikan dampak yang cukup signifikan bagi tatanan dunia, dimana pengaruhnya dapat saja berimbas pada negara-negara ketiga. Untuk itu, studi tentang masa depan tatanan dunia sangat perlu dilakukan, supaya diketahui bagaimana arah masa depan dunia.
Ketika Uni Sovyet runtuh paska perang dingin, ada dua ideologi yang menjadi ancaman dunia, menurut versi Amerika Serikat, yaitu Islam dan Komunis. Negara komunis yang dapat dilihat dari pengalaman Uni Sovyet tumbang. Begitu juga, paskaperang dingin, negara-negara Muslim di Timur Tengah porak-poranda, satu persatu, mulai dari Irak hingga Syria. Akan tetapi, negara Cina yang berideologi komunis malah mengalami kebangkitan yang amat pesat. Negara ini sama sekali tidak dipermasalahkan ideologi yang dianutnya, akan tetapi yang dikhawatirkan adalah ekspansi kekuatan ekonomi, yang sudah menjadi begitu menguat dalam satu dekade terakhir. Keadaan ini pada gilirannya perlu mendapat perhatian dari sisi ancaman global, khususnya bagaimana memahami ideologi komunis tidak dipermasalahkan, ketika sudah menjadi kekuatan raksasa perekonomian global.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat disibukkan oleh persoalan dalam dan luar negeri. Sebagai ‘polisi dunia’, negara ini ingin menstabilkan keadaan dunia ini, melalui kekuatan militernya. Peran sebagai ‘polisi dunia’ ini tentu tidak sebanding dengan kekuatan ekonomi yang sudah mulai menurun dalam beberapa tahun terakhir. Adapun persoalan dalam negeri yang cukup rumit juga ikut memberikan warna pengaruh Amerika Serikat di arena global. Persoalan yang dimaksud adalah mengenai sosok dan perangai presiden Donald Trump, yang semakin memberikan dinamika baik di dalam maupun di luar negara Amerika.
Dengan kata lain, Cina sedang berupaya menggantikan posisi Amerika Serikat. Sementara itu, Amerika Serikat sedang dalam keadaan kalang kabut, mempertahankan posisinya sebagai aktor utama global. Pertarungan ini tentu saja bukan harus diselesaikan melalui konflik atau perang, sebagaimana dilakukan oleh Amerika Serikat di Vietnam atau negara-negara Timur Tengah. Dalam hal ini, pemerintah Amerika Serikat telah memiliki pengalaman di dalam setiap menangani krisis global. Aliansi atau sekutu Amerika Serikat tentu akan bahu membahu untuk mempertahankan posisi strategis bangsa ini. Namun, upaya yang dilakukan untuk menghadapi Cina tentu bukan melalui penyerangan langsung ke negara tersebut, sebagaimana dilakukan terhadap negara-negara Muslim di Timur Tengah.
Untuk menghadapi Cina, Amerika Serikat harus memikirkan berbagai aspek yang harus dipersiapkan adalah: ekonomi, politik, keamanan, dan teknologi. Jika keempat hal tersebut dapat dikuasai secara massif oleh Amerika Serikat, maka kehadiran Cina sebagai rival utama dapat ditaklukkan. Namun, kekuatan Cina dalam empat hal tersebut pun sudah mendekati kata ‘sempurna’ untuk menghadang Amerika Serikat. Pada saat yang sama, ketika Amerika Serikat mengirimkan tentaranya untuk berperang di Timur Tengah, negara Cina malah mengirimkan tentaranya untuk membuat jalan-jalan di berbagai negara di Timur Tengah dan Afrika. Ketika Amerika Serikat sibuk melakukan sanksi terhadap negara-negara yang dimusuhinya, Cina malah mengucurkan dana untuk membantu keterpurukan perekonomian di beberapa negara. Perbedaan pendekatan di dalam memainkan peran utama di pentas global, tampak telah memperlihatkan bagaimana sikap dan respon internasional terhadap kedua negara tersebut. Dengan kata lain, Amerika Serikat terlebih dahulu menghancurkan baru kemudian membantu memperbaikinya. Sementara itu, Cina membantu terlebih dahulu, baru kemudian mengontrol negara yang telah disapihnya.
Dalam konteks ini, pengkajian tentang bagaimana wajah tatanan dunia di masa yang akan datang perlu dikaji secara mendalam. Sebab, tatanan dunia yang akan berlaku di masa depan, akan lebih komplikatit, dibandingkan dengan pembentukan tatanan dunia sebelumnya. Pola untuk mengatur bagaimana sebaiknya dunia berjalan, selalu dimulai dengan suatu peperangan antara sesama manusia. Sejauh ini, Perang Dingin, Perang Dunia II, dan Perang Dunia I merupakan suatu penggalan sejarah dunia yang mengeluarkan para pemenang untuk dapat menjalankan kepentingannya di pentas global. Namun demikian, setelah Perang Dingin, kebangkitan Cina tidak pernah direncanakan sebelumnya. Hal ini disebabkan keruntuhan Uni Sovyet dan kekacauan di Timur Tengah adalah kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, kehadiran Cina sebagai raksasa baru di dunia, sama sekali belum mendapatkan perhatian serius sejak tahun 1990-an awal. Karena itu, proses penemuan arah baru tatanan dunia dewasa ini mulai tidak lagi hanya dikuasai oleh Amerika Serikat, melainkan sudah hadir Cina di dalamnya.
Studi pada gilirannya berupaya untuk memahami bagaimana proses kebangkitan Cina dan respon yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Saya bukanlah ilmuwan yang menstudi tentang hubungan internasional atau geo-politik. Oleh sebab itu, tidak ada perangkat teori khusus untuk memahami fenomena kekinian yang berlaku antara Cina dan Amerika Serikat. Adapun yang dilakukan selama ini adalah mengumpulkan bahan sebanyak mungkin untuk mendalami apa yang dilakukan oleh kedua negara tersebut untuk memuluskan kepentingan nasional masing-masing.
Dari bahan-bahan tersebut, lantas dilakukan suatu analisa mendalam untuk mengetahui pesan-pesan dibalik narasi teks yang mengupas tentang Cina dan Amerika Serikat. Dengan demikian, studi ini bukanlah kajian teoritik, melainkan hanya deskripsi pemahaman saya tentang apa yang akan terjadi di dunia ini, ketika melihat persaingan antara Cina dan Amerika Serikat. Oriana Skylar Mastro menuturkan bahwa: “China is trying to displace, rather than replace, the United States.”
Ada hal yang menarik ketika memahami persaingan antara Cina dan Amerika Serikat. Pada satu sisi, Amerika Serikat menganut sistem tatanan liberal (liberal order), di sisi lain Cina mengedepankan tatanan yang tidak liberal (illiberal order). Di sini Cina lebih mementingkan stabilitas domestik melalui pola otoritarianisme. Keberhasilan Cina menjadi negara adi kuasa dalam perekonomian, rupanya telah mengubah tatanan global. Di sini, karya Martin Jacques menjelaskan secara detail dalam When China Rules the World.
Adapun mengenai order, Henry Kissinger dalam bukunya World Order, membagi ke dalam tiga tingkatan:
World order describes the concept held by a region or civilization about the nature of just arrangements and the distribution of power thought to be applicable to the entire world. An international order is the practical application of these concepts to substantial part of the globe – large enough to affect the global balance of power. Regional orders involve the same principles applied to a defined geographic area.
Kehadiran Cina tentu saja akan mengganggu, untuk tidak mengatakan mengancam, tatanan dunia, tatanan internasional, dan tatanan regional. Cina mempersiapkan diri untuk menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya. Negara ini juga melakukan berbagai ekspansi di beberapa kawasan dan memengaruhi berbagai lembaga internasional. Tidak dapat disangkal pula, pengaruh Cina juga sudah mulai dirasakan dalam konflik di Laut Cina Selatan. Hal ini memperlihatkan bahwa Cina benar-benar ingin menguasai tatanan dunia dengan berbagai strategi yang dijalankan saat ini. Sebagaimana dipaparkan di atas, cangkang pengaruh Cina tidak hanya lagi di kawasan Asia Timur, melainkan juga sudah ke benua lainnya, tidak terkecuali benua Amerika.
Karena itu, studi tentang Cina menjadi studi yang paling banyak dilakukan, setelah studi-studi tentang Islam dan Timur Tengah. Hal ini menyiratkan bahwa para sarjana, baik yang bekerja independen atau bagian dari pemerintah, akan terus menerus mengkaji tentang Cina. Dalam konteks inilah, buku ini hadir untuk memberikan sedikit gambaran kepada pembaca di Indonesia, tentang bagaimana masa depan dunia, ketika Cina sudah benar-benar berada di garda terdepan dalam tatanan global. []