TAKENGON | SAGOE TV – Lantunan syair Didong dan gerak tarian Gayo menghidupkan kembali ruang kelas SD Negeri 9 Kebayakan, Aceh Tengah. Di tengah proses pemulihan pascabencana, seni budaya lokal dimanfaatkan sebagai terapi psikososial untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi, memulihkan rasa aman, serta menumbuhkan kembali kepercayaan diri.
Suasana yang semula sunyi mendadak hangat ketika siswa-siswi sekolah dasar itu menyambut kedatangan relawan Aksi Kemanusiaan Batch 7 dari Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) dan MIT Foundation pada Rabu (28/1/2026). Sambutan Didong dan tarian Gayo tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari pendampingan psikososial anak dalam rangkaian penyaluran donasi masyarakat Negeri Sabah, Malaysia.
Didong dipimpin oleh Fathan, siswa kelas 2 SD, bersama 13 teman sebayanya. Dengan penuh percaya diri, mereka melantunkan syair-syair sederhana tentang kebersamaan dan semangat bangkit. Menariknya, anak-anak mengaku belajar Didong secara mandiri tanpa pelatihan khusus. Sementara itu, tarian Gayo dipersembahkan oleh empat siswi kelas 5 dan 6.
“Kami belajar sendiri, saling mengingatkan. Kalau lupa syair, teman bantu,” ujar Fathan polos, disambut senyum para relawan dan guru.
BACA JUGA: Aceh Tamiang Pascabanjir Bandang: Yang Bertahan dan Bangkit Perlahan
Pendampingan psikososial ini dilaksanakan GEN-A dan MIT Foundation di sejumlah sekolah terdampak bencana di Kecamatan Kebayakan. Pendekatan yang digunakan menempatkan budaya lokal dan ekspresi anak sebagai pintu masuk pemulihan, agar anak-anak kembali merasa aman, didengar, dan dihargai.
Kegiatan difasilitasi oleh dr. Imam Maulana, Trainer GEN-A, bersama Ns. Zafira Nabilah, S.Kep., Edukator GEN-A, serta didukung relawan mahasiswa yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kebayakan. Para mahasiswa turut aktif mendampingi anak-anak dalam aktivitas bermain, bernyanyi, menggambar, dan bergerak bersama.
“Anak-anak tidak selalu mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Melalui seni, gerak, dan permainan, mereka menemukan cara bercerita yang aman,” kata Imam Maulana dalam keterangan tertulis kepada Sagoe TV, Ahad (1/2/2026). Menurutnya, Didong dan tarian Gayo bukan sekadar pertunjukan, melainkan bahasa emosi anak.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis budaya lokal membuat anak lebih nyaman dan terhubung dengan identitasnya sendiri, sekaligus membantu membangun kembali rasa percaya diri dan kebersamaan di lingkungan sekolah pascabencana.
Senada dengan itu, Zafira Nabilah menekankan pentingnya pendampingan psikososial yang menyenangkan dan tidak mengintimidasi. “Kami ingin anak-anak merasa sekolah kembali menjadi tempat yang aman dan menyenangkan. Dengan bermain dan berekspresi, mereka belajar bahwa perasaan mereka valid dan mereka tidak sendirian,” ujarnya.
Pendampingan psikososial dilakukan melalui metode bermain bersama, saling mengenal, berbagi cerita, serta diskusi ringan tentang cita-cita. Anak-anak diajak menyebutkan mimpi mereka—mulai dari ingin menjadi guru, dokter, tentara, hingga ustaz—lalu berdiskusi sederhana tentang cara mewujudkannya.
Dalam proses itu, konsep doa, ikhtiar, tawakal, dan tawadhu diperkenalkan secara kontekstual. Anak-anak diajak memahami bahwa berdoa memberi ketenangan hati, ikhtiar berarti berusaha sungguh-sungguh, tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha, sementara tawadhu mengajarkan rendah hati dan kebersamaan.
Materi disampaikan dengan pendekatan sederhana, komunikatif, dan ramah anak agar mudah dipahami tanpa memberi tekanan. “Ketika anak merasa tenang, didengar, dan dihargai, proses belajar dan tumbuh kembang mereka bisa kembali berjalan,” ujar Imam.
Poster edukasi yang digunakan dalam kegiatan ini menekankan pesan bahwa kesedihan dan musibah bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari ujian kehidupan. Anak-anak diajak memahami bahwa dalam kesulitan selalu ada kekuatan doa dan kebersamaan.
“Bukan hanya mengajarkan anak untuk kuat, tetapi juga bahwa merasa sedih itu manusiawi dan meminta bantuan itu boleh,” kata Zafira. Menurutnya, nilai spiritual membantu anak menata emosi tanpa mengabaikan realitas yang mereka alami—pendekatan yang relevan di Aceh, di mana spiritualitas dan budaya lokal menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Founder MIT Foundation, Teuku Farhan, menilai sambutan siswa SD Negeri 9 Kebayakan sebagai pengingat bahwa pemulihan pascabencana harus berangkat dari martabat dan kekuatan lokal. “Di tengah keterbatasan, mereka menunjukkan daya hidup dan kebanggaan pada budayanya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Reaksi Cepat GEN-A, dr. Intan Qanita, menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak secara psikologis dalam situasi bencana, meski dampaknya tidak selalu terlihat. “Kegiatan berbasis seni dan budaya kearifan lokal seperti ini sangat efektif karena anak merasa aman dan diapresiasi,” katanya.
Bagi pihak sekolah, kehadiran relawan membawa suasana baru. Guru-guru melihat siswa yang sebelumnya pendiam mulai berani tampil dan berinteraksi. “Anak-anak terlihat lebih berani tampil dan berinteraksi.Mereka bangga bisa menunjukkan budaya Gayo di depan kakak-kakak relawan,” ujar salah seorang guru.
Melalui pendampingan psikososial berbasis budaya ini, GEN-A dan MIT Foundation berharap sekolah kembali menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan pulih bersama. Di Kebayakan, lantunan Didong dan gerak tarian Gayo hari itu menjadi penanda bahwa harapan masih tumbuh dari suara dan langkah anak-anak sendiri. []



















