• Tentang Kami
Saturday, August 29, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ihwal Ketertarikan Isaiah Berlin Terhadap Karl Marx

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 6 mins read
A A
0
Ihwal Ketertarikan Isaiah Berlin Terhadap Karl Marx
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad
Dewan Penasehat The Asian Muslim Action Network (AMAN).

Dalam beberapa tahun terakhir, saya menghabiskan waktu untuk menulis sejarah biografi dan pemikiran Isaiah Berlin, seorang filsuf yang “terabaikan” dalam kajian filsafat. Berlin baru mencuat ke permukaan, setelah Henry Hardy mengedit ceramah dan esai-esai Berlin dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak buku Isaiah Berlin terbit, perhatian para sarjana terhadap Berlin pun mulai terbuka tabirnya. Saya berusaha memperkenalkan Isaiah Berlin ke Indonesia, di mana pada awalnya saya menulis tenteng Memahami Intelektual Isaiah Berlin, yang terbit pada salah satu jurnal di Indonesia. Dalam hamparan kajian saya terhadap Isaiah Berlin, terdapat satu topik, menarik manakala Isaiah menulis buku khusus tentang Karl Marx.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Awal karir kepenulisan Isaiah Berlin saat dia menghasilkan buku tentang Karl Marx. Sosok ini sangat memengaruhi dunia, tidak hanya di Barat, tetapi juga di Timur. Karena itu, ketika Berlin menulis tentang Marx, saya terbesit apa istimewanya Marx bagi Berlin. Dalam sejarah teori-teori ilmu sosial, Karl Marx sangat dipengaruhi oleh Hegel. Franz Magnis-Suseno (1999: 47) dalam Pemikiran Karl Marx mengatakan: “Marx Muda yang gusar dengan situasi di Prussia menemukan dalam filsafat Hegel senjata intelektual yang akan menentukan arah pemikirannya.” Marx juga sangat berpengaruh di Russia, khususnya ketika rezim Komunis berkuasa di negara tersebut. Ketika nama Russia diperdalam lagi, maka akan ditemukan pengaruh Marx pada Lenin, Trotsky, Stalin dan Tito. Alan Ryan mengatakan bahwa Marx sebagai inspirator bagi Lenin, Stalin dan Mao Zedong.

Karya-karya Marx memang disebarluaskan di Russia oleh Komunis Russia yang menjadi inkarnasi dari pemikiran-pemikiran Marx di negara tersebut. Adapun untuk memahami Karl Marx, terdapat tiga unsur inti pemikiran Marx yang menjadi sintesa pemikirannya, yaitu: filsafat idealis Jerman, teori politik Perancis, dan ekonomi klasik Inggris. Dengan begitu, siapapun yang akan mendekati Marx, sudah pasti mengakrabkan diri dengan tradisi keilmuan yang berkembang di Jerman, Perancis, dan Inggris. Dapat dipastikan bahwa ketika melihat Marx di Jerman, dia sangat dipengaruhi oleh Hegel. Ketika masih muda, Marx dikenal sebagai Hegel Muda (Young Hegelian). Ketika Marx studi di Universitas Berlin, dia dibawah bimbingan Bruno Bauer (6 September 1809- 13 April 1882), murid dari Hegel. Setelah Marx membaca karya-karya Hegel, dia lantas menjadi Hegelian dan memasukkan dirinya dalam kajian filsafat. Disebutkan oleh Avineri bahwa: “…Marx was drawn to Hegel’s philosophy because he saw in it a powerful instrument for changing reality.” Selain dipengaruhi oleh Hegel, Marx juga dipengaruhi oleh Feuerbach.

Ketika pindah ke Perancis tahun 1843,  Marx lalu berhadapan dengan sosialisme Perancis. Pada akhir tahun tersebut, Marx, menurut Berlin sudah mampu membangun pemikirannya sendiri, setelah membaca karya-karya yang melatarbelakangi peristiwa politik di Perancis. Lebih lanjut, dalam salah satu tulisan tentang perjalanan intelektual, Berlin menulis:

I was commisioned to write a biography of Karl Marx. Marx’s philosophical views never appeared to me to be particularly original or interesting, but my study of his views led me to investigate his predecessors, in particular the French philosophes of the eighteenth century – the first organised adversaries of dogmatism,  traditionalism, religion, superstition, ignorance, oppression.

Sementara itu, di Universitas Oxford, sosok Marx pada tahun 1930-an belum mendapatkan perhatian oleh para sarjana. Berlin menerima permintaan untuk menulis tentang Marx, karena dia mengakui pengaruh dan pentingnya sosok Marx, serta ingin mengetahui mengapa dia mendapatkan begitu banyak pengikut. Demikian kata Laurence Brocklis ketika menjelaskan mengapa Berlin mau menulis Marx, walaupun di kampusnya, perhatian terhadap Marx belum begitu kelihatan. Lebih dari itu, belakangan dalam salah satu wawancara wawancara yang diterbitkan pada tahun 1998, Berlin malah mengakui kehebatan dan keorsinalitas pemikiran Karl Marx:

I was interested in Marx as a person, and his ideas were interesting. I discovered that two, maybe three ideas in Marx were wholly original, everything else came from someone else. His synthesis was remarkable and amounted to genius. The idea of Marx that was genuinely  original was the idea of the influence of  technology on culture, that  technological change influences culture to a profound degree.”

Bagi Berlin, teori-teori yang dihasilkan oleh Marx sangat diharapkan oleh para pengungsi dari Revolusi Russia. Ketika Berlin hendak menulis tentang Marx, situasi pada akhir-akhir tahun 1920-an dan semenjak tahun 1920-an, kelompok liberal dan demokrat, menjadi penjaga terhadap Marxisme dan Bolshevisme. Saya ingin mengatakan bahwa Berlin memandang pemikiran Marx agaknya telah memberikan pengaruh di negeri kelahirannya, Russia. Saat itu, Riga masih menjadi wilayah Russia, sebelum menjadi bagian dari negara Latvia. Dalam Pendahuluan buku Karl Marx, Berlin menyatakan bahwa tidak ada pemikir pada abad ke-19 “has had so direct, deliberate and powerful an influence upon mankind as Karl Marx.” Akan tetapi, bagi Berlin, “Karl Marx was not primarily a philosopher.”  Di tempat lain, Berlin menulis Marx sebagai “…as learned revolutinary theorist good at providing and formulating ideas for international workers’ association…” Dalam konteks ini, Avishai Margalit mengatakan: “Isaiah Berlin had a lifelong fascination with Karl Marx. This fascination has a great deal with with concern with the power of ideas.”

Bagi Berlin, Marx bukanlah sosok yang populer pada masa kehidupannya. Karya-karyanya sama sekali tidak begitu terkenal, melainkan sejak tahun 1870-an, mulai dibaca secara luas. Marx, bagi Berlin adalah “…totally lacked the qualities of a great popular leader or agitator; he was not a publicist of genius, like the Russian democrat Herzen, nor did he possess Mikhail Bakunin’s spell binding eloquence; the greater of his working life was spent in comparative of the British Museum.” Tampak bahwa sosok Herzen dan Mikhail Bakunin lebih berkesan bagi Berlin dibandingkan dengan sosok Marx. Di Russia, adapun Bapak Marxisme di negara tersebut, menurut Berlin, adalah George Valentinovich Plekhanov (1856). Menurut Berlin, istilah ‘dialektika materialis’ ditemukan pertama kali oleh Georgy Plekhanov.

Namun demikian, upaya memosisikan Marx dalam sejarah dunia dan Eropa oleh Berlin memang lebih berlandaskan pada jasa-jasanya di kalangan para buruh ketika muncul usaha untuk internasionalisasi gagasan Marx itu sendiri. Karena itu, tulisan Berlin tentang Marx, selain tentang biografinya, juga tentang filsafat dan internasionalisasi gagasan Marx. Untuk itu, esai ini secara khusus disajikan bagaimana Berlin memotret Marx. Harus diakui bahwa tulisan tentang Marx sudah banyak sekali dilakukan oleh para sarjana. Namun melihat upaya Berlin menulis Marx tentu memiliki keunikan tersendiri. Berlin kelahiran Russia, dimana dia melihat sendiri tentang pergolakan di negara tersebut.

Di samping itu, Berlin juga menulis tentang keadaan intelektual di Russia. Tidak dapat dipungkiri, sebagaimana dinyatakan di atas, bahwa Marx juga sangat memberikan pengaruh dalam gerakan pemikiran di Russia. Namun demikian, Berlin sama sekali tidak pernah menjadi seorang Marxis, seperti penuturan Aurelian Craiuts berikut: “Berlin could have never been a Marxist in the proper sense of the word, for several reason. They have to do with core of his political vision based on his unflichin commitment to pluralism and freedom, and his principled opposition to monism, determinism, and of form of Procrusteanism.”

Dalam “The Philosophy of Karl Marx,” Berlin menuturkan dasar-dasar pemikiran Marx secara filosofis. Berlin menyatakan bahwa untuk memahami teori filsafat Marx, maka perlu dipahami bagaimana Marx memahami manusia  dan alasan suatu tindakan daripada manusia itu sendiri. Di sini Berlin menulis bahwa:

Like the leading French materialist radicals of the eighteenth century, to whom he owed much, Marx believed, in the first place, that man was an object in nature, a three-dimensional lump of flesh, blood and bone to whom the laws of nature discovered by the sciences applied no less fully than to other material objects. Like these materialist, he denied the existence of an immaterial soul, of spiritual substances of any types, and therefore of God, and regarded theology and metaphysics as tissues of falsehood, usurping the place of the natural sciences, which alone could provide true solutions to all questions of all questions of fact, among them the laws governing the evolutions of individuals and societies.

Kutipan di atas memperlihatkan dasar pemikiran Marx tentang manusia, yang lebih banyak dipengaruhi oleh para kelompok materialis dari Perancis. Di sini, manusia dilihat dari sisi hukum alam atau manusia merupakan objek. Di samping itu, Marx sama sekali tidak memercayai hal-hal yang bersifat spiritual. Singkat kata, Marx melihat manusia dari perspektif ilmu-ilmu kealaman (natural sciences). Dengan kata lain, Marx mengikuti hukum alam yang berlaku atas manusia itu sendiri. Jadi, ketika memahami Marx tentu saja bukan sedang memahami kehadiran Tuhan dalam gerak dan langkah seorang manusia, melainkan bagian dari hukum alam yang menggerakannya. Gagasan kelompok materialis Perancis menyerang kelompok rasionalis, dimana mereka mengkonstruksi sistem berpikir yang independen yang memengaruhi pemikiran Eropa hingga hari ini.

Selanjutnya, Berlin mengungkapkan bahwa menurut Marx, manusia berbeda dengan alam, karena manusia mampu melakukan inovasi untuk menciptakan alat-alat agar memenuhi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Berlin menulis: “For Marx technological capacities are man’s fundamental nature: they are responsible for what awareness of the processes of living and conscious direction of them which is called history.”

Tampak bahwa sejarah bermula merupakan bagian dari kesadaran manusia di dalam menghasilkan teknologi. Ini tentu saja sangat terkait dengan pemikiran Hegel, dimana sejarah menjadi ruang kesadaran manusia. Ketika menulis tentang Hegel, Berlin memberikan narasi tentang sejarah sebagai berikut: “Therefore history is solely an account of the experience of human beings … History is the story of human creation, human imagination, human wills and intentions, feelings, rather than what is done to them.” Pemahaman ini, juga dijelaskan oleh Berlin dalam melihat pengaruh sejarah dalam kehidupan terhadap pemikiran Marx. Hanya saja, pikiran Hegel yang dimulai dari spirit dan logika yang dibangun, khususnya dalam kajian dialektika, diterjemahkan oleh Marx secara sosiologis.[]

Tags: FilsafatIsaiah BerlinKarl Marx
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad adalah Antropolog. Berdomisili di Aceh.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

August 27, 2026
Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

August 25, 2026
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

August 24, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026
Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

August 23, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

August 27, 2026
21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

August 27, 2026
M. Azril Ihksan

Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri

August 26, 2026

EDITOR'S PICK

Menko Pangan Zulkifli Hasan Tinjau Koperasi Desa Merah Putih di Banda Aceh

Menko Pangan Zulkifli Hasan Tinjau Koperasi Desa Merah Putih di Banda Aceh

September 18, 2025
Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

April 4, 2026
Kä ù Dalam: Kompleksitas Kemiskinan di Aceh

Mengapa Qanun LKS Harus Direvisi?

June 10, 2023
Seleksi Calon Kafilah MTQ Banda Aceh Sukses, 329 Peserta Ikuti di Lima Lokasi

Seleksi Calon Kafilah MTQ Banda Aceh Sukses, 329 Peserta Ikuti di Lima Lokasi

January 22, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.