Oleh: Risnawati Ridwan
ASN pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
“Banyak ya bu uangnya, berapa hari dapat segini banyak?”, Tanya seorang petugas Satpol PP kepada seorang ibu yang sedang membuka plastik kresek warna warni berisikan uang yang telah digulung. Terlihat kresek warna merah berisikan beberapa gulungan uang seribuan, kresek biru berisikan uang dua-ribuan dan hijau berisikan gulungan uang lima-ribuan.
“Saya baru satu hari disini pak, udah Bapak tangkap.” Jawab si Ibu dengan santai.
“Lho, uangnya segini banyak dalam satu hari?”
“Ga pak, Saya udah mampir ke Lhoksemawe, Bireun, Sigli baru sampe sini kemarin. Bapak ambil aja ini untuk uang makan dan ngopi sama bapak-bapak lain, kan capek udah kerja dari pagi sampe sekarang.” Sambil menyerahkan dua kresek kepada si petugas.
Bulan Ramadhan sudah beberapa hari kita jalani. Telah diketahui bahwa Ramadhan adalah bulan berkah, rezeki bagi semua kalangan. Tidak terkecuali pengemis. Pengemis berdatangan ke ibukota, ibarat lampu yang didatangin laron, ibukota menjadi tujuan mencari cuan yang lebih. Tentu saja pengemis ini adalah yang telah menjadikan aktivitas mengemisnya sebagai sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Tidak usah bercerita berapa penghasilan harian mereka, bahkan pegawai pemerintah saja bisa kalah dibuatnya. Apalagi di musim-musim basah seperti ramadhan ini.
Mental mengemis ini berkembang dengan pesat selama 20 tahun terakhir. Bahkan para pelakunya yang sudah ada sejak dulu telah mengorbitkan tokoh-tokoh baru dalam dunia per-pengemis-an. Orang-orang ini bisa kita sebut telah mempunyai mental visioner dalam menaklukan jiwa-jiwa yang memelihara mentalitas adat, istiadat bahkan agama.
Sebagai orang Aceh, ajaran agama Islam adalah tulang punggung yang dibawa sejak lahir bahkan sampai mati. Salah satunya adalah bersedekah. Bersedekah merupakan bentuk ketenangan atas harta yang dimiliki. Disaat seseorang bersedekah maka dia telah meyakini bahwa hartanya telah “bersih” dan Tuhan akan memberikan yang lebih banyak sebagai ganti apa yg telah dikeluarkan tersebut. Pemahaman inilah yang dijadikan peluang oleh orang-orang yang telah melebur dalam mentalitas mengemis.
Salah satu pengalaman saya berhadapan dengan pengemis yang masih berbekas sampai sekarang adalah peristiwa saya cekcok dengan mamak saya. Saat itu kami sedang duduk santai di warkop dengan keluarga besar. Saya duduk bersebelahan dengan mamak. Belum pun pesanan sampai ke meja kami, sese-ibu dengan pakaian compang camping menghampiri meja kami. Karena saya paling ujung tentu saja si ibu berdiri dekat saya. Mamak mengeluarkan dompet dan memberikan selembar lima ribuan. Saya diam saja. Tapi adik-adik nyengir melihat saya. Mereka paham sekali alasan saya tidak pernah lagi memberikan sedekah kepada pengemis.
Si ibu pengemis bergeser ke meja lain dan saya tetap memantau arah pergerakannya. Setelah semua meja dikelilingii dan keluar,saya bisa melihat bahwa si ibu mengobrol dengan seorang anak laki-laki sekitar 10 tahun. Dalam benak saya,ini pasti gerombolannya juga. Tak lama si anak masuk ke warkop. Dia mulai mendekati orang-orang yang sambil minum dan makan. Kira-kira 5 meja menuju meja kami, saya berkata kepada keluarga. “Lihatlah anak yang keumadee itu, yang tadi mamaknya, sekarang anaknya disuruh masuk”. Mamak saya sudah siap-siap mengeluarkan uang limaribuan lagi dari dompet. Saya melarang dengan menahan tangannya agar tidak terlihat di atas meja. Mamak masih diam menuruti larangan saya.
Saat si anak menghampiri kami, saya bertanya sama si anak, aktivitas meminta sedekah ini dengan siapa, sekolah atau tidak, tinggal dimana dan dengan siapa. Tangan saya tetap menahan tangan mamak yang memegang duit. Karena gaya interogasi agak keras dan dia merasa terindimidasi, si anak meninggalkan meja kami. Dan mamak mengomel, ‘Kan ga apa-apa kita kasih sedekah sama orang miskin, sama pengemis, kita lagi mudah rezekinya dan lagian ini juga duit mamak bukan duit kalian dan bla bla bla”. Adik-adik saya tertawa terbahak-bahak melihat konflik kami. Saat itu saya tidak menjawab omelan mamak. Karena saya tahu sifat dan tabiat mamak jika sudah marah.
Mamak kami adalah contoh konkrit tentang memberi sedekah. Beliau tidak peduli bahwa di jaman sekarang pengemis itu bukanlah aktivitas yang dilakukan secara terpaksa. Tetapi menjadi profesi yang menjanjikan. Bagi beliau, sedekah adalah pembersihan harta, ajaran agama yang harus dijalankan bahkan identitas sosial sebagai orang Aceh. Dalam omelan beliau, beliau juga mengingatkan kami bagaimana dulu saat tsunami begitu banyak orang “bersedekah” membantu kita yg hilang harta benda. Bukan hanya dari dalam negeri bahkan dari luar negeri. Menurut mamak saya, pernah merasakan kekurangan itu adalah penderitaan yang juga di rasakan oleh para pengemis yang meminta-minta.
Empati sosial yang ditampilkan dalam perilaku tersebut tidak hanya ditunjukkan oleh mamak saya. Bahkan teman-teman saya yang notabene juga mengerti lingkaran setan dunia pengemis ini tetap memberikan uang jika ada yang mampir ke meja tongkrongan kami. Bahkan dalam circle, saya menjadi sesepuh jika berjumpa dengan pengemis. Bahkan pengemisnya di takut-takutin dan diberitahu bahwa saya adalah orang Dinas Sosial yang akan menangkap pengemis yang berkeliaran.
Disinilah bertumbuhkembangnya mental mengemis dengan sangat cepat. Ajaran agama disatukan dengan empati sosial menjadikan peluang yang sangat besar. Memahami makna empati sosial adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan kondisi emosional serta situasi sosial orang lain, lalu merespons dengan kepedulian nyata. Jika empati yang diberikan secara sehat dan terstruktur maka akan membawa makna positif bagi pengemis tersebut, salah satunya adalah membuka peluang rehabilitasi berupa program berbasis empati (pelatihan kerja, konseling) membantu perubahan mentalitas. Inilah yang selalu dilakukan pemerintah dalam mengatasi masalah pengemis.
Namun jika empati sosial yang diberikan secara acak, tidak terarah dan instan, hanya berupa pemberian uang tanpa solusi jangka panjang akan menimbulkan ketergantungan, dapat menurunkan motivasi untuk mencari alternatif pekerjaan, bahkan membentuk pola pikir “belas kasihan adalah sumber pendapatan”. Ini lah yang sering dan sedang terjadi di masyarakat kita.
Dampak empati sosial yang meleset dapat menimbulkan perubahan karakter dari pengemis. Walaupun tidak dipungkiri ada karakter-karakter salah yang tidak mengikat terhadap sebuah profesi, namun bukan berarti boleh juga dilakukan oleh pengemis ini. Karakter salah dalam narasi ini adalah tentang memberikan suap atau sogok. Janganlah sudah salah dalam melakukan kativitas yang telah menjadi profesi, ditambah lagi dengan karakter yang berbahaya seperti sogok atau suap.
Peristiwa di atas nyata adanya. Terjadi saat petugas Satpol PP melakukan penjangkauan dan penjaringan gelandangan dan pengemis di seputaran Kota Banda Aceh dan telah di bawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial yang berada di Gampong Lamjabat Kec. Meuraxa Kota Banda Aceh. Sebagai orang yang pernah bekerja dengan permasalahan gelandangan pengemis ini, saya melihat praktik suap yang dilakukan oleh pengemis yang terjaring razia merupakan tantangan tersendiri bagi petugas. Menjadi hal yang lucu saat kita menyaksikan peristiwa tersebut, namun dibalik perilaku “suap” yang dilakukan ada karakter tersembunyi dimana jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan mental dan karakter yang lebih berbahaya.
Empati sosial yang salah kaprah yakni empati yang hanya berwujud pemberian materi tanpa arah pemberdayaan akan berpotensi memperkuat mental ketergantungan pada pengemis. Ketika bantuan diberikan terus-menerus tanpa disertai edukasi, rehabilitasi, atau peluang kerja, seseorang dapat membentuk pola pikir bahwa belas kasihan adalah sumber utama penghidupan. Dalam perspektif psikologi perilaku, pola ini dapat diperkuat melalui mekanisme reinforcement (penguatan), yaitu perilaku mengemis terus dilakukan karena menghasilkan imbalan.
Lebih jauh, kondisi ini juga berpotensi memunculkan praktik sogok-menyogok dalam konteks sosial tertentu. Misalnya, jika mengemis menjadi aktivitas yang “dikelola” atau dikontrol oleh oknum tertentu, maka bantuan publik dapat berubah fungsi menjadi sumber rente. Di titik ini, empati yang tidak terarah tidak lagi murni sebagai kepedulian sosial, tetapi masuk ke dalam pola relasi transaksional.[]




















