• Tentang Kami
Wednesday, October 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Rethinking Pasca Bencana bagi Masyarakat Aceh Tamiang

Anna Rizatil by Anna Rizatil
January 30, 2026
in Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Rethinking Pasca Bencana bagi Masyarakat Aceh Tamiang

M. Azril Ihksan, Mahasiswa UIN Ar-Raniry. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: M. Azril Ihksan
Mahasiswa UIN Ar-Raniry

Rethinking meminjam istilah Mohammed Arkoun, filsuf dan intelektual Muslim yang berarti meninjau ulang, apa yang harus dilihat, didengar, dan dilakukan demi menghadirkan perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam konteks pascabencana, rethinking bukan sekadar refleksi intelektual, melainkan upaya menata ulang cara berpikir dan bertindak di tengah luka, kelelahan, dan kehilangan.

Bagi masyarakat di wilayah terdampak bencana, kebangkitan tidak hanya dimulai dari bantuan material, tetapi juga dari kesadaran berpikir dan keberanian bertindak. Meski bencana menyayat fisik dan batin, ruang untuk bangkit harus tetap dibuka perlahan, namun pasti.

BACA JUGA

Negeri Hahaha Hihihi

Mengapa Pelajaran Biologi Jauh dari Kehidupan Siswa?

Kerangka berpikir semacam inilah yang kemudian menemukan bentuk nyatanya dalam percakapan-percakapan sederhana bersama warga terdampak bencana di Aceh Tamiang.

Keheningan Sayup-Sayup Diskusi
Dalam sebuah diskusi sederhana bersama warga terdampak banjir di Desa Landuh, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, keheningan malam menjadi saksi lahirnya refleksi yang bermakna. Di atas lantai teras rumah, seorang warga bernama Rusdi seorang pedagang menyampaikan pandangannya tentang dasar-dasar untuk bangkit.

Sambil menunjuk ke langit, ia berkata:

“Pertama, kita tidak boleh seperti orang yang terbengong, terduduk, terdiam, dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Kedua, kita harus mencari celah pelan-pelan. Ketiga, kita tidak boleh menyerah begitu saja pada keadaan.”

Ungkapan sederhana itu sesungguhnya mengandung fondasi rethinking yang kuat: pengetahuan tentang karakter diri dan wawasan praksis (tindakan nyata) yang lahir dari pengalaman langsung.

Jika diurai secara filosofis, gagasan Rusdi dapat dipahami dalam tiga lapisan makna.

Pertama, larangan untuk “terbengong dan terdiam” merupakan seruan agar korban bencana tidak larut dalam kebekuan mental. Ini adalah syarat awal untuk bangkit menanamkan sikap sadar, waspada, dan siap bergerak. Dari sinilah akar kekuatan mental mulai tumbuh.

Kedua, “mencari celah dengan pelan-pelan” dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengamati, menganalisis, dan memahami peluang sekecil apa pun yang tersedia. Dalam situasi krisis, bertindak semampunya seperti berdagang kebutuhan mendesak atau bekerja sesuai kondisi adalah bentuk adaptasi yang rasional.

Ketiga, penolakan untuk menyerah begitu saja menegaskan sikap anti-apatis. Rusdi tidak menafikan peran bantuan pemerintah atau relawan, namun menolak ketergantungan total. Ia menawarkan jalan kemandirian sebuah sikap aktif untuk mengatasi krisis dengan kekuatan sendiri.

Nietzsche dan Masyarakat Tamiang

Pemikiran Friedrich Nietzsche menemukan relevansinya di sini. Konsep Amor Fati mencintai takdir mengajarkan manusia untuk menerima kehidupan apa adanya, baik maupun buruk, tanpa mengutuk atau mengingkarinya.

Mencintai takdir bukan berarti pasrah tanpa perlawanan, melainkan menerima realitas sambil tetap berjuang. Kemandirian manusia, menurut Nietzsche, lahir dari keberanian menghadapi ketidakpastian dan tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada pihak lain except yourself.
Gagasan Rusdi, meski lahir dari pengalaman warga desa, sejalan dengan pemikiran tersebut. Kemandirian dimulai dari penerimaan, lalu bergerak menuju kebangkitan dengan pikiran yang jernih dan tindakan yang terukur.

Diskusi malam itu, dalam suasana hening dan sederhana, justru menghadirkan ketenangan batin. Cahaya pemahaman seolah meresap perlahan ke dalam jiwa-jiwa yang lelah, menumbuhkan harapan untuk bangkit bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat.

Refleksi Akhir: Filosofi Rusdi

Dalam rasa sakit yang menusuk akibat bencana banjir, manusia dihadapkan pada dua pilihan yaitu bangkit atau menyerah. Rusdi menawarkan jalan ketiga menolak bencana sebagai alasan untuk diam dan merasa tak berarti.

Filosofi sederhana ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehancuran, masih ada ruang untuk berpikir ulang, menata langkah, dan membangun kembali martabat kemanusiaan. Rethinking pascabencana bukan hanya wacana, tetapi sikap hidup yang harus terus dihidupkan. []

Tags: Aceh TamiangopiniPascabencana AcehRethinking
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Negeri Hahaha Hihihi
Opini

Negeri Hahaha Hihihi

by SAGOE TV
October 20, 2026
Mengapa Pelajaran Biologi Jauh dari Kehidupan Siswa
Opini

Mengapa Pelajaran Biologi Jauh dari Kehidupan Siswa?

by SAGOE TV
October 19, 2026
Risnawati Ridwan
Opini

Kabut Asap Sampai ke Aceh, Apa yang Sudah Kita Ajarkan kepada Anak-anak?

by Risnawati binti Ridwan
October 18, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan
Opini

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

by SAGOE TV
October 14, 2026
Publik dalam Bayang Militerisme Urban
Opini

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

by SAGOE TV
October 5, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Muhammad Riza Nurdin Direktur Komersial PT PEMA

Muhammad Riza Nurdin Ditunjuk Jadi Direktur Komersial PT PEMA

October 20, 2026
Risnawati Ridwan

Kabut Asap Sampai ke Aceh, Apa yang Sudah Kita Ajarkan kepada Anak-anak?

October 18, 2026
Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

October 18, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026
Wisuda 227 Lulusan, UIA Beri Hadiah Umrah untuk Prodi S1 Ekonomi Syariah Berpredikat Unggul

Wisuda 227 Lulusan, UIA Beri Hadiah Umrah untuk Prodi S1 Ekonomi Syariah Berpredikat Unggul

October 20, 2026

EDITOR'S PICK

Bupati Aceh Besar Pimpin Apel Perdana OPD di Kota Jantho

Bupati Aceh Besar Pimpin Apel Perdana OPD di Kota Jantho

March 15, 2025
Universitas Syiah Kuala USK Aceh

USK Buka Prodi Baru Teknologi Industri Hasil Perikanan

January 20, 2025
Pj Wali Kota Banda Aceh Almuniza Kamal Pamit, Ajak ASN Terus Berkolaborasi

Pj Wali Kota Banda Aceh Almuniza Kamal Pamit, Ajak ASN Terus Berkolaborasi

February 4, 2025
Di Tengah Stigma Intoleran, Banda Aceh Ternyata Miliki Dua Desa Sadar Kerukunan

Di Tengah Stigma Intoleran, Banda Aceh Ternyata Miliki Dua Desa Sadar Kerukunan

June 25, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.