• Tentang Kami
Wednesday, July 15, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Skate Park Stage: Praktik yang Tidak Lagi Hilang, Melainkan Bekerja

SAGOE TV by SAGOE TV
March 30, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera

Ari J. Palawi. Musisi dan Akademisi Seni Aceh. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan akademisi seni Universitas Syiah Kuala.

Kita terlalu sering menyaksikan praktik seni yang hidup, tetapi hilang tanpa jejak pengetahuan. Ia hadir, lalu selesai. Yang tersisa hanya ingatan, sementara proses, pengalaman, dan kemungkinan yang terkandung di dalamnya tidak pernah benar-benar menjadi sesuatu yang bisa dibaca ulang, dipelajari, atau dikembangkan.

Dalam lanskap seni Aceh hari ini, situasi ini semakin terasa kompleks. Perdebatan seputar ruang pertunjukan, pembatalan acara, hingga batas-batas representasi menunjukkan bahwa seni tidak hanya berhadapan dengan ekspresi, tetapi juga dengan tata kelola yang belum sepenuhnya matang. Yang dipertaruhkan bukan hanya panggung, melainkan ekosistem yang belum memiliki sistem kerja yang berkelanjutan (Palawi, 2025).

BACA JUGA

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

Di sisi lain, praktik seni itu sendiri menghadapi persoalan yang tidak kalah mendasar. Ia masih sering berhenti pada tampilan. Kedalaman pengalaman, relasi dengan makna, bahkan dimensi spiritual yang dahulu menjadi inti perlahan menjauh. Seni tetap hadir, tetapi tidak selalu menghadirkan pengalaman yang utuh (Palawi, 2025).

Dalam ruang akademik, persoalan ini muncul dalam bentuk lain. Aktivitas seni berlangsung aktif, tetapi belum terhubung dengan sistem produksi pengetahuan. Karya tidak terdokumentasi secara ilmiah, proses kreatif tidak menjadi data, dan kontribusinya belum terintegrasi dalam mekanisme seperti IKU, BKD, maupun sistem mutu. Potensi praktik seni sebagai sumber pengetahuan berbasis pengalaman belum bekerja secara maksimal (Palawi, 2026).

Dari situasi inilah Skate Park Stage diposisikan. Bukan sebagai panggung baru, bukan pula sekadar format kegiatan, melainkan sebagai cara kerja. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa praktik tidak lagi berhenti sebagai peristiwa, tetapi masuk ke dalam sistem yang mampu mengolahnya menjadi pengetahuan.

Penamaan Skate Park Stage diprakarsai oleh Sandy Islamanda, musisi jazz yang juga dikenal sebagai Profesor Kopi. Nama ini membawa satu cara pandang yang sederhana namun kuat. Skate park adalah ruang yang terbuka, cair, tanpa hierarki yang kaku. Orang datang untuk mencoba, jatuh, belajar, lalu mencoba lagi. Tidak ada jarak antara proses dan hasil. Energi seperti ini dekat dengan tradisi ruang diskursus di Aceh yang selama ini hidup di warung kopi.

Skate Park Stage tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari satu arsitektur yang lebih luas bersama Inkubator Seni Berbasis Riset dan DigitaLab sebagai pusat pengelolaan data budaya. Ketiganya bekerja dalam satu alur yang saling terhubung, dari praktik menuju data, dari data menuju pengetahuan, lalu menjadi output yang terukur dan berdampak.

Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa praktik bukan sekadar hasil, tetapi metode. Dalam kerangka Practice-Led Research yang diperkenalkan oleh Christopher Frayling (1993) dan dikembangkan oleh Henk Borgdorff (2012), pengetahuan tidak hanya lahir dari tulisan, tetapi juga dari tindakan, pengalaman, dan proses yang dijalani secara langsung. Dalam konteks ini, pendekatan tersebut tidak hanya diadopsi, tetapi diterjemahkan ke dalam kondisi lokal Aceh yang memiliki karakter praktik kolektif dan berbasis pengalaman.

Sebagian besar pengetahuan dalam praktik seni bersifat implisit. Michael Polanyi (1966) menyebutnya sebagai tacit knowledge, pengetahuan yang kita miliki tetapi sulit kita rumuskan. Dalam praktik musik dan budaya Aceh, hal ini hadir dalam bentuk rasa, intuisi, dan keputusan yang terjadi dalam situasi nyata.

Skate Park Stage bekerja untuk menangkap wilayah ini. Setiap praktik direkam, dicatat, dan dibaca ulang. Dokumentasi menjadi bagian dari proses berpikir. Video menangkap interaksi, audio merekam detail bunyi, sementara catatan kuratorial memberi arah dalam memahami apa yang terjadi.

Proses ini berlanjut pada refleksi. Mengikuti pemikiran Donald Schön (1983), pengalaman perlu diolah agar menjadi pemahaman. Praktik tidak dibiarkan berlalu, tetapi dibaca kembali, dipertanyakan, dan dirumuskan menjadi insight yang dapat dikembangkan.

Banyak momen dalam Skate Park Stage berlangsung secara improvisasional. Namun improvisasi di sini bukan sesuatu yang acak. Ia adalah bentuk berpikir dalam waktu nyata, sebagaimana dijelaskan oleh George E. Lewis (2008). Interaksi antara pelaku, ruang, dan audiens menjadi proses kognitif yang hidup, tempat pengetahuan bekerja secara langsung.

Peran kurator menjadi penting dalam keseluruhan proses ini. Kurator membaca praktik, mengartikulasikan pengalaman, dan mengubahnya menjadi pemahaman yang dapat dibagikan. Dari sini praktik mulai bertransformasi menjadi pengetahuan yang dapat dikembangkan lebih jauh.

Dalam keseluruhan arsitektur ini, Inkubator Seni Berbasis Riset menjadi pusat orkestrasi yang menghubungkan praktik, data, dan konversi menjadi output akademik. Ia memastikan bahwa setiap aktivitas tidak berhenti sebagai proses, tetapi menghasilkan luaran yang diakui, mulai dari publikasi hingga kekayaan intelektual. DigitaLab kemudian menjaga semua itu sebagai data budaya yang terkelola dan berdaulat.

Ketika sistem ini mulai berjalan dan menghasilkan output yang terukur, kebutuhan akan struktur akademik yang lebih permanen menjadi tidak terhindarkan. Aktivasi Skate Park Stage menjadi langkah awal dalam membangun fondasi yang secara bertahap mengarah pada penguatan program akademik hingga terwujudnya Fakultas Seni dan Humaniora di Universitas Syiah Kuala (Palawi et all. [2026]). Dalam proses ini, sistem dibangun lebih dahulu, lalu kelembagaan mengikutinya sebagai hasil dari kebutuhan yang nyata.

Bagi mahasiswa, Skate Park Stage membuka cara belajar yang lebih utuh. Tidak hanya menghasilkan karya, tetapi memahami proses dan mampu mengartikulasikannya. Bagi dosen, ini menjadi ruang untuk mengembangkan praktik sebagai riset yang sahih dan terukur. Bagi komunitas, ini memberi tempat untuk terlibat tanpa kehilangan konteks praktiknya. Bagi institusi, ini menjadi langkah strategis untuk membangun sistem pengetahuan berbasis seni yang berkelanjutan.

Dimensi lain yang ikut terbuka adalah kemungkinan ekonomi. Dokumentasi dapat berkembang menjadi konten, arsip menjadi aset, dan praktik dapat melahirkan bentuk turunan yang memiliki nilai lebih jauh. Ketika dikelola dalam sistem yang tepat, seni tidak hanya menghasilkan pengalaman, tetapi juga nilai yang berkelanjutan.

Terlibat dalam Skate Park Stage berarti masuk ke dalam proses ini. Datang dengan gagasan, sekecil apa pun. Bersedia menjalani dokumentasi. Siap membaca ulang praktik sendiri. Dan memahami bahwa setiap tindakan adalah bagian dari sistem yang lebih besar.

Di titik ini, yang sedang dibangun bukan lagi sekadar ruang praktik, tetapi fondasi bagi cara baru memahami seni sebagai sistem pengetahuan. Praktik tidak lagi berdiri sendiri. Ia terhubung, terbaca, dan bekerja. Dari ruang yang sederhana, ia bergerak menuju sistem yang mampu menopang pengetahuan, menjaga data budaya, dan membentuk masa depan seni sebagai bagian dari infrastruktur akademik yang utuh.[]

Tags: acehAri J. PalawiIndonesiaMakin Tahu IndonesiaSeniSkate Park Stage
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
SENI

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

by SAGOE TV
July 8, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

by SAGOE TV
July 2, 2026
SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh
SENI

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

by SAGOE TV
June 26, 2026
Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas
SENI

Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

by SAGOE TV
June 23, 2026
Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh
SENI

Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama: SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

by SAGOE TV
June 19, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
UIN Ar-Raniry Tambah 6 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini Capai 66 Orang

UIN Ar-Raniry Tambah 6 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini Capai 66 Orang

July 14, 2026
Horor Perjalanan Belum Berakhir

Horor Perjalanan Belum Berakhir

July 10, 2026
BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

July 10, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Risman Rachman.

Manajemen Solusi, Bagaimana Menerapkannnya?

March 15, 2025
Pemerintah Luncurkan Gernas RANA, Perkuat Pelindungan Anak di Pesantren dan Madrasah

Pemerintah Luncurkan Gernas RANA, Perkuat Pelindungan Anak di Pesantren dan Madrasah

July 12, 2026
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

July 8, 2026

EDITOR'S PICK

Update Terkini Bencana Aceh: 91.962 Warga Masih Mengungsi, Aceh Utara Terbanyak

Aceh Resmi Masuki Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Selama 90 Hari

February 8, 2026
Tempo Digugat Rp200 Miliar oleh Mentan Amran Sulaiman, AJI: Upaya Pembungkaman dan Pembangkrutan Media

Tempo Digugat Rp200 Miliar oleh Mentan Amran Sulaiman, AJI: Upaya Pembungkaman dan Pembangkrutan Media

November 3, 2025
Semarak Pawai Budaya HUT RI di Banda Aceh, Warna-Warni Busana Adat Pukau Ribuan Warga

Semarak Pawai Budaya HUT RI di Banda Aceh, Warna-Warni Busana Adat Pukau Ribuan Warga

August 18, 2025
Mahathir Kenang Peran Tokoh Aceh dalam Pembangunan Malaysia

Mahathir Kenang Peran Tokoh Aceh dalam Pembangunan Malaysia

February 8, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.