• Tentang Kami
Wednesday, October 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

YGO dan Agenda Kebudayaan Aceh di Tengah Tekanan Global

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
YGO dan Agenda Kebudayaan Aceh di Tengah Tekanan Global

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Musisi YGO, Komposer, dan Penulis skripsi Alternatif Pengembangan Kreasi dan Kreatifitas, Kelompok Musik Yogyakarta Guitar Orchestra. ISI Yogyakarta, 2000; Akademisi Seni USK

Konstelasi global sedang berada dalam fase yang tidak stabil: perang di Eropa Timur, eskalasi di Timur Tengah, rivalitas kekuatan besar, krisis energi, dan perubahan iklim membentuk ulang prioritas ekonomi dan politik dunia. Dampaknya menjalar hingga daerah termasuk Aceh dalam bentuk tekanan fiskal, fluktuasi harga, dan meningkatnya intensitas bencana ekologis. Banjir berulang di Aceh dan Sumatra memperlihatkan persoalan tata ruang, kehutanan, dan koordinasi kebijakan yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Dalam konteks ini, seni sering ditempatkan sebagai sektor pelengkap. Namun pengalaman Yogyakarta Guitar Orchestra (YGO) menunjukkan bahwa praktik seni yang terkelola dengan disiplin dapat menjadi model kerja kolektif yang relevan untuk pembangunan daerah.

BACA JUGA

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

YGO bukan sekadar kelompok gitar. Ia adalah sistem. Anggotanya tersebar di berbagai kota, termasuk Banda Aceh. Produksi dilakukan secara terdistribusi: komposer menulis partitur, direktur artistik mengawal tafsir, music principal memastikan presisi, pemain merekam sesuai standar, tim produksi menyatukan keseluruhan. Kualitas dijaga melalui pedoman teknis yang jelas dan evaluasi internal yang konsisten.

Struktur ini sederhana namun efektif. Kejelasan peran dan disiplin kolektif menjadi fondasi. Dalam perspektif musikologi, ini adalah praktik ansambel yang matang: setiap bagian memiliki fungsi, tidak ada yang bekerja di luar sistem, dan keseluruhan lebih penting dari ego individual.

Model seperti ini relevan bagi Aceh yang sedang memperkuat tata kelola kebudayaan. Banyak komunitas seni memiliki energi dan kreativitas, tetapi belum membangun sistem dokumentasi, regenerasi, dan perencanaan jangka menengah. Kegiatan sering bersifat programatik berhenti ketika anggaran selesai. YGO menunjukkan pentingnya kontinuitas: produksi rutin, arsip terawat, jejaring diperluas.

Diskursus di Universitas Syiah Kuala menegaskan perlunya menghubungkan riset dengan praktik. Karya ilmiah tentang seni Aceh cukup banyak, tetapi integrasinya dengan kebijakan publik dan ekosistem produksi masih terbuka untuk diperkuat. YGO memadukan produksi karya dengan dokumentasi sistematis. Repertoar diklasifikasikan, proses dicatat, distribusi dilakukan secara terbuka. Pendekatan ini dapat menginspirasi pembentukan arsip digital seni Aceh yang terpadu bukan sekadar dokumentasi seremoni, melainkan bank data kebudayaan yang dapat diakses publik dan menjadi dasar kebijakan.

Perspektif komunitas juga penting. Pengalaman Mas Tanto Mendut bersama Komunitas Lima Gunung memperlihatkan bahwa seni dapat tumbuh dari desa dan menjadi medium refleksi atas pembangunan dan lingkungan. Dalam konteks banjir berulang di Aceh dan Sumatra, seni memang bukan solusi teknis, tetapi ia mampu membuka ruang dialog antara data ilmiah dan pengalaman sosial. Ia membentuk kesadaran kolektif yang diperlukan agar kebijakan tidak terlepas dari konteks.

Pelajaran metodologis dari YGO adalah integrasi harus dirancang. Dalam orkestra, tempo dan dinamika disepakati. Dalam tata kelola daerah, koordinasi lintas sektor lingkungan, pendidikan, kebudayaan, ekonomi harus berjalan dalam kerangka yang sama. Tanpa itu, kebijakan berjalan parsial dan hasilnya tidak optimal.

Inisiatif seperti ‘Aceh harmony’, dengan perangkat musikal serupa sebuah (Atjeh) Symphony Orchestra mengangkat harmoni sebagai gagasan sosial. Agar operasional, harmoni perlu diterjemahkan menjadi mekanisme: peta jalan kebudayaan berbasis riset, sistem pembinaan talenta, forum lintas sektor reguler, dan indikator evaluasi yang jelas. Dalam praktik orkestra, latihan terjadwal, target produksi terukur, dan regenerasi dirancang. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam pengelolaan kebudayaan daerah.

Baca: Harmoni Sebagai Jalan Pulang Aceh

Aceh memiliki karakter sosial yang kuat: religius, komunal, dan memiliki tradisi musyawarah. Pendekatan kebudayaan harus inklusif membuka partisipasi akademisi, aparatur pemerintah, mahasiswa, seniman, budayawan, ulama, serta komunitas desa tanpa menurunkan standar kualitas. YGO menjaga kualitas teknis tinggi meskipun bekerja secara terdistribusi. Prinsip meritokrasi berjalan seiring solidaritas. Model ini dapat diadaptasi: terbuka bagi partisipasi luas, tetapi berbasis kompetensi dan tanggung jawab.

Sebagai etnomusikolog, saya melihat bahwa praktik musikal selalu mencerminkan struktur sosial. Dalam ansambel tradisi Aceh rapa’i, didong, atau praktik musikal religius disiplin kolektif dan pembagian peran sudah menjadi bagian dari kebiasaan. Tantangannya adalah mengorganisasikan nilai tersebut dalam konteks kontemporer, termasuk penggunaan teknologi digital untuk produksi dan distribusi.

Perubahan dari pendekatan berbasis peristiwa menuju ekosistem menjadi krusial. Ekosistem mengandaikan kesinambungan: pendidikan, produksi, dokumentasi, distribusi, dan evaluasi berjalan simultan. Ia membutuhkan komitmen lintas periode kepemimpinan dan koordinasi lintas institusi. Dalam situasi global yang fluktuatif, daerah dengan sistem sosial dan kebudayaan yang tertata akan lebih adaptif.

YGO memperlihatkan bahwa komunitas seni dapat memosisikan diri sebagai aktor strategis. Ia membaca zaman, memanfaatkan teknologi, dan menjaga standar profesional. Aceh memiliki modal sosial dan historis yang tidak kecil. Dengan manajemen yang tepat, modal ini dapat diterjemahkan menjadi kekuatan kebudayaan yang relevan secara nasional dan regional.

Baca: Dodaidi yang Kian Sunyi: Mencari Suara Ibu di Tengah Tidur Anak Zaman Kini

Kebudayaan bukan sektor pinggiran. Ia adalah ruang pembiasaan kerja kolektif. Dalam orkestra, satu bagian yang tidak disiplin memengaruhi keseluruhan. Dalam masyarakat, satu sektor yang berjalan sendiri juga menimbulkan dampak sistemik. Karena itu, membangun struktur kolaboratif dalam seni bukan sekadar agenda estetika, melainkan latihan tata kelola.

Di tengah tekanan global dan tantangan lokal termasuk persoalan banjir yang berulang kemampuan mengorganisasi keragaman menjadi sistem yang koheren adalah kebutuhan strategis. Pengalaman YGO layak dibaca sebagai contoh konkret bagaimana disiplin kolektif, dokumentasi yang rapi, dan visi jangka panjang dapat membentuk praktik yang berkelanjutan.

Aceh tidak perlu meniru bentuknya. Yang relevan adalah prinsipnya: kerja terstruktur, inklusif berbasis kompetensi, terhubung dengan riset, dan responsif terhadap konteks sosial. Dengan pendekatan itu, kebudayaan dapat mengambil peran lebih signifikan dalam membentuk arah pembangunan daerah yang tertata, adaptif, dan berdaya tahan.[]

Referensi:
Palawi, A., Situmorang, S., & Nugroho, R. (2021). Yogyakarta Guitar Orchestra (YGO): managing innovation and creativity in creative resource management for classical guitar education in Indonesia. International Journal of Visual and Performing Arts, 3(2), 117-126. doi: https://doi.org/10.31763/viperarts.v3i2.509

Yogyakarta Guitar Orchestra. (n.d.). Diakses 2 Maret 2026, dari https://yogyakartaguitarorchestra.wordpress.com/
YGO [@ygo5508]. (n.d.). YouTube channel. YouTube. https://www.youtube.com/@ygo5508

Tags: AcehGlobalKebudayaanMakin Tahu IndonesiaopiniSeniYGO
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances
SENI

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

by SAGOE TV
October 11, 2026
Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara
SENI

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

by SAGOE TV
October 10, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda
SENI

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

by SAGOE TV
September 28, 2026
SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH
SENI

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

by SAGOE TV
September 22, 2026
Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Muhammad Riza Nurdin Direktur Komersial PT PEMA

Muhammad Riza Nurdin Ditunjuk Jadi Direktur Komersial PT PEMA

October 20, 2026
Risnawati Ridwan

Kabut Asap Sampai ke Aceh, Apa yang Sudah Kita Ajarkan kepada Anak-anak?

October 18, 2026
Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

October 18, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026
Wisuda 227 Lulusan, UIA Beri Hadiah Umrah untuk Prodi S1 Ekonomi Syariah Berpredikat Unggul

Wisuda 227 Lulusan, UIA Beri Hadiah Umrah untuk Prodi S1 Ekonomi Syariah Berpredikat Unggul

October 20, 2026

EDITOR'S PICK

Bek Brasil Daniel Alemao Targetkan Banyak Kemenangan Bersama Persiraja

Bek Brasil Daniel Alemao Targetkan Banyak Kemenangan Bersama Persiraja Musim 2026/27

August 1, 2026
Pj Gubernur Aceh Buka Konferwil PGRI, Tekankan Pentingnya Pendidikan sebagai Pilar Utama Pembangunan

Pj Gubernur Aceh Buka Konferwil PGRI, Tekankan Pentingnya Pendidikan sebagai Pilar Utama Pembangunan

January 25, 2025
Prof Muhibbuthabry Ajak Umat Jadikan Ramadhan Momentum Peningkatan Iman

Prof Muhibbuthabry Ajak Umat Jadikan Ramadhan Momentum Peningkatan Iman

March 2, 2025
Wapres Ma'ruf Amin Terima Kunjungan Silaturahmi Rektor UIN Ar-Raniry Aceh

Wapres Ma’ruf Amin Terima Kunjungan Silaturahmi Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh

October 19, 2024
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.