• Tentang Kami
Tuesday, April 14, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

YGO dan Agenda Kebudayaan Aceh di Tengah Tekanan Global

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
YGO dan Agenda Kebudayaan Aceh di Tengah Tekanan Global

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Musisi YGO, Komposer, dan Penulis skripsi Alternatif Pengembangan Kreasi dan Kreatifitas, Kelompok Musik Yogyakarta Guitar Orchestra. ISI Yogyakarta, 2000; Akademisi Seni USK

Konstelasi global sedang berada dalam fase yang tidak stabil: perang di Eropa Timur, eskalasi di Timur Tengah, rivalitas kekuatan besar, krisis energi, dan perubahan iklim membentuk ulang prioritas ekonomi dan politik dunia. Dampaknya menjalar hingga daerah termasuk Aceh dalam bentuk tekanan fiskal, fluktuasi harga, dan meningkatnya intensitas bencana ekologis. Banjir berulang di Aceh dan Sumatra memperlihatkan persoalan tata ruang, kehutanan, dan koordinasi kebijakan yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Dalam konteks ini, seni sering ditempatkan sebagai sektor pelengkap. Namun pengalaman Yogyakarta Guitar Orchestra (YGO) menunjukkan bahwa praktik seni yang terkelola dengan disiplin dapat menjadi model kerja kolektif yang relevan untuk pembangunan daerah.

BACA JUGA

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

YGO bukan sekadar kelompok gitar. Ia adalah sistem. Anggotanya tersebar di berbagai kota, termasuk Banda Aceh. Produksi dilakukan secara terdistribusi: komposer menulis partitur, direktur artistik mengawal tafsir, music principal memastikan presisi, pemain merekam sesuai standar, tim produksi menyatukan keseluruhan. Kualitas dijaga melalui pedoman teknis yang jelas dan evaluasi internal yang konsisten.

Struktur ini sederhana namun efektif. Kejelasan peran dan disiplin kolektif menjadi fondasi. Dalam perspektif musikologi, ini adalah praktik ansambel yang matang: setiap bagian memiliki fungsi, tidak ada yang bekerja di luar sistem, dan keseluruhan lebih penting dari ego individual.

Model seperti ini relevan bagi Aceh yang sedang memperkuat tata kelola kebudayaan. Banyak komunitas seni memiliki energi dan kreativitas, tetapi belum membangun sistem dokumentasi, regenerasi, dan perencanaan jangka menengah. Kegiatan sering bersifat programatik berhenti ketika anggaran selesai. YGO menunjukkan pentingnya kontinuitas: produksi rutin, arsip terawat, jejaring diperluas.

Baca Juga:  Merangkai Komitmen dalam Kata: Cerita Pendaftaran Beasiswa Unggulan

Diskursus di Universitas Syiah Kuala menegaskan perlunya menghubungkan riset dengan praktik. Karya ilmiah tentang seni Aceh cukup banyak, tetapi integrasinya dengan kebijakan publik dan ekosistem produksi masih terbuka untuk diperkuat. YGO memadukan produksi karya dengan dokumentasi sistematis. Repertoar diklasifikasikan, proses dicatat, distribusi dilakukan secara terbuka. Pendekatan ini dapat menginspirasi pembentukan arsip digital seni Aceh yang terpadu bukan sekadar dokumentasi seremoni, melainkan bank data kebudayaan yang dapat diakses publik dan menjadi dasar kebijakan.

Perspektif komunitas juga penting. Pengalaman Mas Tanto Mendut bersama Komunitas Lima Gunung memperlihatkan bahwa seni dapat tumbuh dari desa dan menjadi medium refleksi atas pembangunan dan lingkungan. Dalam konteks banjir berulang di Aceh dan Sumatra, seni memang bukan solusi teknis, tetapi ia mampu membuka ruang dialog antara data ilmiah dan pengalaman sosial. Ia membentuk kesadaran kolektif yang diperlukan agar kebijakan tidak terlepas dari konteks.

Pelajaran metodologis dari YGO adalah integrasi harus dirancang. Dalam orkestra, tempo dan dinamika disepakati. Dalam tata kelola daerah, koordinasi lintas sektor lingkungan, pendidikan, kebudayaan, ekonomi harus berjalan dalam kerangka yang sama. Tanpa itu, kebijakan berjalan parsial dan hasilnya tidak optimal.

Inisiatif seperti ‘Aceh harmony’, dengan perangkat musikal serupa sebuah (Atjeh) Symphony Orchestra mengangkat harmoni sebagai gagasan sosial. Agar operasional, harmoni perlu diterjemahkan menjadi mekanisme: peta jalan kebudayaan berbasis riset, sistem pembinaan talenta, forum lintas sektor reguler, dan indikator evaluasi yang jelas. Dalam praktik orkestra, latihan terjadwal, target produksi terukur, dan regenerasi dirancang. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam pengelolaan kebudayaan daerah.

Baca: Harmoni Sebagai Jalan Pulang Aceh

Aceh memiliki karakter sosial yang kuat: religius, komunal, dan memiliki tradisi musyawarah. Pendekatan kebudayaan harus inklusif membuka partisipasi akademisi, aparatur pemerintah, mahasiswa, seniman, budayawan, ulama, serta komunitas desa tanpa menurunkan standar kualitas. YGO menjaga kualitas teknis tinggi meskipun bekerja secara terdistribusi. Prinsip meritokrasi berjalan seiring solidaritas. Model ini dapat diadaptasi: terbuka bagi partisipasi luas, tetapi berbasis kompetensi dan tanggung jawab.

Sebagai etnomusikolog, saya melihat bahwa praktik musikal selalu mencerminkan struktur sosial. Dalam ansambel tradisi Aceh rapa’i, didong, atau praktik musikal religius disiplin kolektif dan pembagian peran sudah menjadi bagian dari kebiasaan. Tantangannya adalah mengorganisasikan nilai tersebut dalam konteks kontemporer, termasuk penggunaan teknologi digital untuk produksi dan distribusi.

Baca Juga:  Aceh di Persimpangan Energi dan Budaya: Cerita Tentang Martabat, Pembangunan, dan Harapan Baru

Perubahan dari pendekatan berbasis peristiwa menuju ekosistem menjadi krusial. Ekosistem mengandaikan kesinambungan: pendidikan, produksi, dokumentasi, distribusi, dan evaluasi berjalan simultan. Ia membutuhkan komitmen lintas periode kepemimpinan dan koordinasi lintas institusi. Dalam situasi global yang fluktuatif, daerah dengan sistem sosial dan kebudayaan yang tertata akan lebih adaptif.

YGO memperlihatkan bahwa komunitas seni dapat memosisikan diri sebagai aktor strategis. Ia membaca zaman, memanfaatkan teknologi, dan menjaga standar profesional. Aceh memiliki modal sosial dan historis yang tidak kecil. Dengan manajemen yang tepat, modal ini dapat diterjemahkan menjadi kekuatan kebudayaan yang relevan secara nasional dan regional.

Baca: Dodaidi yang Kian Sunyi: Mencari Suara Ibu di Tengah Tidur Anak Zaman Kini

Kebudayaan bukan sektor pinggiran. Ia adalah ruang pembiasaan kerja kolektif. Dalam orkestra, satu bagian yang tidak disiplin memengaruhi keseluruhan. Dalam masyarakat, satu sektor yang berjalan sendiri juga menimbulkan dampak sistemik. Karena itu, membangun struktur kolaboratif dalam seni bukan sekadar agenda estetika, melainkan latihan tata kelola.

Di tengah tekanan global dan tantangan lokal termasuk persoalan banjir yang berulang kemampuan mengorganisasi keragaman menjadi sistem yang koheren adalah kebutuhan strategis. Pengalaman YGO layak dibaca sebagai contoh konkret bagaimana disiplin kolektif, dokumentasi yang rapi, dan visi jangka panjang dapat membentuk praktik yang berkelanjutan.

Aceh tidak perlu meniru bentuknya. Yang relevan adalah prinsipnya: kerja terstruktur, inklusif berbasis kompetensi, terhubung dengan riset, dan responsif terhadap konteks sosial. Dengan pendekatan itu, kebudayaan dapat mengambil peran lebih signifikan dalam membentuk arah pembangunan daerah yang tertata, adaptif, dan berdaya tahan.[]

Referensi:
Palawi, A., Situmorang, S., & Nugroho, R. (2021). Yogyakarta Guitar Orchestra (YGO): managing innovation and creativity in creative resource management for classical guitar education in Indonesia. International Journal of Visual and Performing Arts, 3(2), 117-126. doi: https://doi.org/10.31763/viperarts.v3i2.509

Baca Juga:  Momen Presiden Prabowo dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf Berangkulan di Istana

Yogyakarta Guitar Orchestra. (n.d.). Diakses 2 Maret 2026, dari https://yogyakartaguitarorchestra.wordpress.com/
YGO [@ygo5508]. (n.d.). YouTube channel. YouTube. https://www.youtube.com/@ygo5508

Tags: acehGlobalKebudayaanMakin Tahu IndonesiaopiniSeniYGO
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan
SENI

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

by SAGOE TV
April 4, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Skate Park Stage: Praktik yang Tidak Lagi Hilang, Melainkan Bekerja

by SAGOE TV
March 30, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik
SENI

Literasi dan Apresiasi Seni: Menghidupkan yang Nyaris Terbiasa Dilupakan

by SAGOE TV
March 27, 2026
Memberi Ruh pada Mesin: Navigasi Baru Sarjana Seni Aceh
SENI

Memberi Ruh pada Mesin: Navigasi Baru Sarjana Seni Aceh

by SAGOE TV
March 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

April 10, 2026
Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

April 10, 2026
Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

April 10, 2026
BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

April 8, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

April 6, 2026

EDITOR'S PICK

BEM Universitas Islam Aceh Resmi Dilantik, Rektor Harap Jadi Motor Penggerak Aspirasi Mahasiswa

BEM Universitas Islam Aceh Resmi Dilantik, Rektor Harap Jadi Motor Penggerak Aspirasi Mahasiswa

July 4, 2025
Sambut Ramadhan, Disperindag Aceh Dampingi Gubernur Percepat Impor Sapi dan Kerbau

Sambut Ramadhan, Disperindag Aceh Dampingi Gubernur Percepat Impor Sapi dan Kerbau

January 20, 2026
Momen Wagub Aceh Fadhlullah Disapa Presiden Prabowo di Pembukaan APKASI Otonomi Expo 2025

Momen Wagub Aceh Fadhlullah Disapa Presiden Prabowo di Pembukaan APKASI Otonomi Expo

August 28, 2025
Norma Ketenagakerjaan Jadi Sorotan Wamenaker untuk Lindungi Pekerja

Norma Ketenagakerjaan Jadi Sorotan Wamenaker untuk Lindungi Pekerja

February 9, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.