• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Apakah Aceh Berani Istimewa?

SAGOE TV by SAGOE TV
May 15, 2025
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Aceh Dua Dekade Damai: Seremoni Berlimpah, Substansi Terlupa

Ari J. Palawi. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari Palawi

Ada yang sedang tumbuh diam-diam dari janji negara. Program indah yang digagas Presiden Prabowo untuk memanusiakan manusia, terutama anak-anak dan remaja desa, tampak mulai mengakar sebagai niat baik yang perlu kita kawal bersama. Jika benar diniatkan untuk memuliakan hidup, bukan sekadar proyek atau pengulangan dari skema pembangunan lama, maka inilah momen langka yang seharusnya menyentuh nadi keistimewaan Aceh yang sesungguhnya. Tapi pertanyaannya, apakah Aceh berani istimewa?

BACA JUGA

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

Yang dimaksud “berani istimewa” bukan hanya soal status administratif sebagai daerah otonomi khusus, tapi tentang keberanian moral dan intelektual untuk membedakan diri secara prinsipil dari arus besar penyeragaman sistemik nasional yang sering kali gagal menjawab kebutuhan lokal.

Momentum Sekolah Rakyat: Kesempatan untuk Menyimpang dengan Bijak

Program Sekolah Rakyat yang kini mulai dirancang dan disebarluaskan ke berbagai daerah, termasuk mungkin di Aceh, adalah titik awal penting. Ia bisa menjadi jalan baru untuk keluar dari kemelut pendidikan dasar-menengah yang selama ini diseragamkan dari Sabang sampai Merauke, namun terus melahirkan masalah-masalah baru: kekeringan makna, keterputusan dengan realitas lokal, dan pendidikan yang lebih menekankan hafalan daripada pengasahan akal dan empati.

Aceh, dengan segala kekhasan sejarah, budaya, dan spiritualitasnya, memiliki tanggung jawab dan peluang untuk menjadikan Sekolah Rakyat bukan sebagai kloning dari pusat, melainkan sebagai antitesis yang sehat dari model pendidikan nasional yang terlalu administratif dan teknokratis. Model yang sering gagal mendidik manusia utuh—yang berpikir, merasa, dan berbuat dalam relasi yang manusiawi dengan sesama dan alam.

Memurnikan Tujuan: Bukan Untuk Ormas, Tapi Untuk Anak Negeri

Yang perlu digarisbawahi sejak awal adalah bahwa sekolah ini bukan milik ormas mana pun. Ia milik rakyat. Milik anak-anak yang kerap dipinggirkan karena tinggal jauh dari kota, atau dianggap hanya sebagai angka statistik dari program-program penanggulangan kemiskinan. Anak-anak yang selama ini hidup dalam bayang-bayang trauma konflik, bencana, atau ketidakpastian masa depan.

Karena itu, pendekatan homogen, terpusat, dan seragam justru berbahaya. Ia menghilangkan konteks. Padahal pendidikan yang baik lahir dari kedekatan dengan bumi tempat ia tumbuh: dari bahasa ibu, dari kisah-kisah lokal, dari tradisi belajar yang tidak harus selalu bernama “kelas”, tapi bisa berbentuk meunasah, bale, atau tumpukan batu di bawah pohon yang rimbun, di mana anak-anak bisa belajar membaca alam, mengenal diri, dan menghargai hidup.

Kalau Aceh sungguh-sungguh mau berani istimewa, maka inilah saatnya untuk tidak tunduk pada model cetak biru dari pusat, apalagi jika model itu menanggalkan nilai-nilai keacehan yang penuh hikmah. Kita butuh lebih dari sekadar sekolah; kita butuh taman kehidupan, tempat anak tumbuh sebagai manusia, bukan sebagai mesin atau pemilih suara di masa depan.

Taman Pengetahuan, Bukan Ladang Politisasi

Sudah cukup lama pendidikan kita dirampas dari marwahnya. Sekolah menjadi tempat menggiring, bukan membimbing. Ia dibangun bukan untuk mencerdaskan, tapi untuk mendisiplinkan, membungkam, atau—pada titik paling kejamnya—mencetak anak-anak untuk kepentingan politik elektoral.

Kini, saat Sekolah Rakyat dirancang kembali, Aceh harus punya nyali untuk tidak menjadikannya perpanjangan tangan dari partai politik atau organisasi tertentu yang ingin mendominasi ruang-ruang sosial. Ini bukan panggung pengaruh, ini adalah ruang kehidupan. Dan kita tahu, sekali ruang kehidupan dijajah oleh kepentingan politik jangka pendek, maka hancurlah generasi yang akan datang.

Sekolah Rakyat di Aceh harus kembali kepada akar: menumbuhkan akal sehat yang merdeka, menjunjung tinggi keberadaban, serta memperkuat jati diri yang selama ini diwariskan para endatu. Di sinilah pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi soal keberanian untuk menyusun hidup dengan bijak, berani, dan manusiawi.

Tanggung Jawab Kolektif: Anak Cucu Adalah Masa Kini yang Belum Bernama

Kita semua adalah penjaga masa depan. Dan masa depan itu bukan milik siapa-siapa kecuali anak cucu kita yang belum bisa memilih, belum bisa bersuara. Kalau kita diam saat arah pendidikan mereka diseret ke dalam proyek-proyek politik atau program pembangunan yang tak berpijak pada realitas mereka, maka kitalah yang sedang menyiapkan kubur bagi martabat mereka.

Aceh adalah tanah yang penuh kisah. Tapi kisah itu tak akan ada artinya kalau kita tak mampu menyambungnya dengan masa depan. Dan masa depan itu, kini, berada dalam ruang yang bernama Sekolah Rakyat—yang bisa menjadi pintu cahaya, atau jebakan baru yang lebih tersamar.

Maka pertanyaan itu kembali: Apakah Aceh berani istimewa?

Berani memilih jalan yang berbeda.

Berani melindungi anak-anaknya dari penyeragaman yang memiskinkan.
Berani meneguhkan pendidikan sebagai jalan kehidupan, bukan alat kekuasaan.

Jawabannya bukan ada di tangan pemerintah saja.

Jawabannya ada pada kita semua. []

Penulis adalah dosen seni pertunjukan di Universitas Syiah Kuala. Ia menulis, meneliti, dan mencipta karya yang menghubungkan penciptaan artistik, pengabdian budaya, dan kebijakan publik. Fokusnya banyak pada wilayah-wilayah non-sentral dan suara komunitas.

Tags: acehAnalisisGenerasiPemerintahPemerintah AcehpendidikanPresiden PrabowoSekolah Rakyat
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Sulaiman Tripa
Analisis

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

by Anna Rizatil
February 2, 2026
Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala
Analisis

Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas
Analisis

Sabar Bukan Diam: Refleksi Etika dan Kebijakan dalam Penanggulangan Bencana Aceh

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan
Analisis

Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan

by Anna Rizatil
December 30, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

March 8, 2026
Illiza Nobatkan Sagti Aprilian dan Cut Riska Adilla sebagai Agam Inong Banda Aceh 2025

Illiza Nobatkan Sagti Aprilian dan Cut Riska Adilla sebagai Agam Inong Banda Aceh 2025

November 12, 2025
Acara Kenali dan Peduli Lingkungan Sendiri (KENDURI) Desa Damai yang digelar Forum Koordinasi dan Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh di Desa Kuta Padang, Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat, Selasa (14/3/2023)

BNPT Bersama FKPT Aceh Lakukan Sosialisai Bahaya Radikalisme dan Terorisme di Desa Pancasila Meulaboh

February 8, 2026
Ngopi Konstitusi ke-157 Bahas Presidential Threshold Pasca Putusan MK

Ngopi Konstitusi ke-157 Bahas Presidential Threshold Pasca Putusan MK

January 10, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.