• Tentang Kami
Saturday, May 2, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

Safuadi. ST., M.Sc., Ph.D

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Safuadi Harun. ST., M.Sc., Ph.D
Pengamat Ekonomi dan Pembangunan

Perang di Timur Tengah kerap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun sejarah berulang kali menunjukkan, setiap eskalasi di kawasan itu hampir selalu berujung pada satu hal: lonjakan harga energi global. Dan ketika energi melonjak, dapur rumah tangga serta kas negara kita ikut terguncang.

Jika eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran sampai mengganggu Selat Hormuz, harga minyak dunia berpotensi menembus 100 dolar AS per barel. Padahal dalam asumsi RAPBN 2026, Indonesia menggunakan patokan sekitar 70 dolar AS per barel. Selisih 30 dolar itu bukan angka kecil. Dalam konteks fiskal, ia bisa berubah menjadi tekanan ratusan triliun rupiah.

BACA JUGA

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

Selat Hormuz dan “Saklar” Energi Dunia
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati selat sempit ini. Untuk LNG, angkanya juga mendekati seperlima perdagangan global. Jalur ini adalah “katup utama” sistem energi internasional.

Jika terjadi gangguan serius, dampaknya berlapis. Harga minyak mentah naik. Harga gas ikut terdorong. Biaya pengiriman melonjak. Premi asuransi kapal meningkat tajam. Bahkan sebelum pasokan benar-benar terhenti, pasar sudah menaikkan harga karena premi risiko. Inilah yang disebut sebagai efek geopolitik terhadap geo-ekonomi. Gangguan militer berubah menjadi tekanan inflasi global.

APBN sebagai Tameng
Dalam RAPBN 2026, subsidi energi dianggarkan sekitar Rp210 triliun, mencakup subsidi listrik, subsidi LPG 3 kg, serta subsidi dan kompensasi BBM seperti Pertalite dan Solar. Angka itu disusun dengan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel. Jika harga melonjak menjadi 100 dolar atau lebih, pemerintah menghadapi pilihan politik yang tidak sederhana: menaikkan harga energi ke masyarakat atau menahan harga dan membayar selisihnya melalui APBN.

Baca Juga:  Wali Nanggroe (Bagian II): Menata Ulang Peran Strategis Wali Nanggroe di Era Kebudayaan Baru

Selama ini Indonesia cenderung memilih opsi kedua demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli. Dalam istilah fiskal, APBN berfungsi sebagai shock absorber. Negara menyerap guncangan agar masyarakat tidak merasakannya secara langsung. Namun shock absorber memiliki batas daya tahan. Dalam praktik kebijakan, inilah yang disebut sebagai “harga ditahan”.

Apa Itu Harga Ditahan?
Harga ditahan berarti pemerintah tidak menaikkan harga jual ke konsumen meskipun harga keekonomian telah meningkat. Harga keekonomian sendiri dihitung dari harga internasional, ICP untuk minyak mentah, MOPS untuk BBM, harga LNG spot untuk gas ditambah biaya pengolahan, distribusi, margin, dan faktor nilai tukar. Jika harga keekonomian lebih tinggi dari harga jual resmi, maka selisihnya dibayar negara melalui subsidi atau kompensasi.

Sebagai ilustrasi, bila harga keekonomian BBM mencapai Rp12.500 per liter sementara harga jual tetap Rp10.000, maka terdapat selisih Rp2.500 per liter yang harus ditanggung APBN. Dengan konsumsi puluhan miliar liter per tahun, beban fiskalnya dapat mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Harga ditahan pada dasarnya adalah keputusan politik untuk menahan inflasi dan menjaga daya beli. Namun setiap keputusan politik memiliki konsekuensi fiskal.

Simulasi Tekanan Fiskal
Mari kita hitung secara realistis.

Jika ICP naik dari 70 dolar menjadi 100 dolar per barel, selisih harga keekonomian BBM bisa bertambah sekitar Rp2.000 hingga Rp3.500 per liter, tergantung kombinasi harga minyak, freight, asuransi, dan kurs. Dengan volume Pertalite sekitar 29 juta kiloliter dan Solar sekitar 18 juta kiloliter per tahun, tambahan beban fiskal dari BBM saja bisa mencapai:

  • Sekitar Rp95 triliun dalam skenario moderat
  • Hingga mendekati Rp170 triliun dalam skenario berat

Belum termasuk LPG 3 kg yang sangat tergantung impor. Jika harga global LPG naik 25–40 persen, subsidi LPG bisa bertambah Rp20–30 triliun. Di sektor kelistrikan, kenaikan harga gas dan BBM pembangkit akan meningkatkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik PLN. Jika tarif listrik tidak disesuaikan, selisihnya menjadi subsidi atau kompensasi tambahan yang bisa mencapai Rp10–50 triliun. Secara total, tekanan fiskal tambahan dapat berada di kisaran Rp125 hingga Rp250 triliun. Angka ini setara anggaran satu kementerian besar atau lebih dari total beberapa program prioritas nasional.

Baca Juga:  Aceh Siapkan Pelayaran Internasional Krueng Geukueh-Penang, Ditargetkan Berlayar Awal 2026

Secara total, tambahan beban fiskal dapat berada di kisaran Rp125 triliun hingga Rp250 triliun. Angka ini setara anggaran satu kementerian besar atau lebih dari total beberapa program prioritas nasional. Artinya, setiap keputusan menahan harga energi memiliki konsekuensi pada ruang fiskal pembangunan. Dengan kata lain, setiap kebijakan menahan harga energi berarti ruang fiskal pembangunan menyempit.

Ilusi Windfall Migas
Sering muncul argumen bahwa kenaikan harga minyak akan meningkatkan penerimaan migas negara. Benar, ada potensi windfall. Namun Indonesia adalah net importer minyak. Kita lebih banyak membeli daripada menjual.

Selain itu, kenaikan penerimaan tidak selalu sebanding dengan lonjakan subsidi yang dihitung per liter dan berbasis volume besar. Ada pula persoalan timing. Kompensasi harus dibayar cepat untuk menjaga arus kas Pertamina dan PLN, sementara penerimaan negara masuk secara bertahap. Dalam banyak kasus, lonjakan minyak justru membuat tekanan fiskal membesar.

Dampak Makro yang Lebih Luas
Tekanan tidak berhenti pada APBN. Harga energi yang naik mendorong inflasi. Biaya logistik meningkat. Rupiah tertekan karena kebutuhan dolar untuk impor energi bertambah. Bank Indonesia bisa terdorong menaikkan suku bunga. Yield surat utang negara meningkat. Beban bunga utang membesar. Jika situasi memburuk, pertumbuhan ekonomi melambat dan defisit transaksi berjalan melebar. Dengan kata lain, ini bukan sekadar isu subsidi. Ini isu stabilitas ekonomi nasional.

Dimensi Geo-Politik dan Geo-Ekonomi
Konflik Iran bukan hanya persoalan militer. Ia memiliki dimensi geo-ekonomi yang dalam. Iran adalah salah satu pemasok minyak signifikan bagi China. Sebagian besar ekspor minyak Iran mengalir ke pasar Asia, terutama China.

Gangguan pada Iran atau Hormuz berarti gangguan pada arsitektur energi Asia. Negara-negara besar akan memperkuat cadangan strategis, mencari jalur alternatif, dan mereposisi strategi pasokan. Dunia sedang menyaksikan bagaimana energi menjadi instrumen kekuatan geopolitik. Dan dalam sistem global yang saling terhubung, Indonesia tidak bisa berdiri di luar pusaran tersebut.

Baca Juga:  Membaca Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi

Pilihan Kebijakan
Dalam situasi ekstrem, pemerintah memiliki tiga opsi:

  • Pertama, menahan harga dan membiarkan APBN menyerap guncangan.
  • Kedua, melakukan penyesuaian harga bertahap dengan bantalan bantuan sosial yang tepat sasaran.
  • Ketiga, mereformasi subsidi agar lebih terarah sehingga ruang fiskal tidak jebol ketika shock datang. Keputusan ini bukan semata teknis. Ia adalah keputusan politik yang menentukan arah stabilitas ekonomi.

Penutup
Jika harga minyak benar-benar menembus 100 dolar per barel dan Selat Hormuz terganggu, tekanan fiskal Indonesia bisa mencapai ratusan triliun rupiah. Dalam situasi seperti itu, APBN bukan lagi sekadar dokumen anggaran. Ia berubah menjadi tameng ekonomi nasional, dan setiap tameng memiliki batas kekuatan. Pertanyaannya bukan apakah risiko itu ada. Pertanyaannya adalah: apakah kita telah menyiapkan bantalan yang cukup kuat sebelum gelombang datang? []

Tags: APBNMakin Tahu IndonesiaPerangSelat HormuzTimu Tengah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?
Opini

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

by Anna Rizatil
April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh
Opini

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

by SAGOE TV
April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan
Opini

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan
Opini

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

by Anna Rizatil
April 20, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global
Opini

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

by Anna Rizatil
April 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

64 Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

May 1, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Hardiknas 2026 Universitas Syiah Kuala Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

Hardiknas 2026: USK Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

May 1, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

April 24, 2026
Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

April 28, 2026

EDITOR'S PICK

Tim Sinergisitas KTN BNPT Gelar Pertemuan dengan FKPT Aceh

Tim Sinergisitas KTN BNPT Gelar Pertemuan dengan FKPT Aceh

February 8, 2026
Skandal Ijazah di Panwaslih Aceh Barat, DKPP Resmi Copot Aidil Azhar dari Kursi Ketua

Skandal Ijazah di Panwaslih Aceh Barat, DKPP Resmi Copot Aidil Azhar dari Kursi Ketua

May 20, 2025
PGRI Aceh Gelar Konferensi Provinsi ke-23

PGRI Aceh Gelar Konferensi Provinsi ke-23

January 14, 2025
Langkah Konkret Dishub Atasi Kemacetan Simpang Empat Pasar Aceh

Langkah Konkret Dishub Atasi Kemacetan Simpang Empat Pasar Aceh

January 15, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.