Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh
Beberapa bulan terakhir saya menulis tentang kegelisahan yang sesungguhnya berangkat dari pertanyaan yang sama.
Saya pernah menulis tentang pentingnya literasi dan apresiasi seni sebagai upaya menghidupkan kembali sesuatu yang nyaris terbiasa kita lupakan. Saya juga mempertanyakan pelestarian yang terlalu sering berhenti pada menjaga bentuk, tetapi belum sungguh-sungguh menumbuhkan kehidupan. Dalam tulisan lain saya mengajak kita merenungkan mengapa percakapan seni sering berakhir di meja diskusi tanpa menjelma menjadi kerja bersama. Hingga akhirnya saya menawarkan satu gagasan sederhana melalui Keuneubah Endatu abad ke-21: warisan terbaik bukan sekadar benda atau pengetahuan, melainkan kemampuan untuk terus mencipta.
Hari ini saya tidak ingin mengulang gagasan-gagasan itu. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa semuanya baru memperoleh makna ketika mulai dipraktikkan. Karena kebudayaan tidak tumbuh dari tulisan. Ia tumbuh ketika manusia memilih untuk saling bertemu, saling percaya, lalu bekerja bersama.
Kita sering mengira karya seni adalah sesuatu yang dipertontonkan: tarian, lagu, lukisan, pertunjukan, atau film. Padahal semua itu adalah hasil. Yang jauh lebih sulit adalah menciptakan keadaan agar karya-karya itu terus lahir.
Seorang guru tidak menciptakan murid. Seorang kurator tidak menciptakan karya. Seorang petani tidak menciptakan padi. Namun mereka menghadirkan ruang yang memungkinkan semuanya bertumbuh.
Barangkali demikian pula kebudayaan. Kebudayaan bukan sekadar kumpulan karya, melainkan kemampuan sebuah masyarakat untuk terus melahirkan karya-karya baru.
Karena itu, keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya festival atau ramainya pertunjukan. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah panggung dibongkar. Apakah hubungan antarmanusia tetap terjaga? Apakah komunitas mulai bekerja bersama? Apakah pengetahuan terus diwariskan? Apakah ruang publik menjadi semakin bermakna?
Dari pertanyaan-pertanyaan itulah saya perlahan memahami bahwa yang sesungguhnya sedang kita cari bukanlah acara yang lebih besar, melainkan ekosistem yang lebih sehat.
Kesadaran itu sedang kami pelajari melalui perjalanan SPS Revival dan Darud Dunia.
Bukan karena kami merasa telah menemukan jawabannya, tetapi justru karena kami sedang belajar mempertemukan simpul-simpul yang selama ini tumbuh sendiri-sendiri: olahraga urban, seni pertunjukan, literasi, media komunitas, ruang publik, ekonomi kreatif, akademisi, pemerintah, hingga masyarakat.
Proses itu akan memasuki satu babak baru melalui THE SKATE PARK STAGE — REVIVAL pada 18 Juli 2026, bersamaan dengan penyelenggaraan KARDO National Qualification di Skate Park Lamprit bersama Komunitas Skaters Kota Banda Aceh.
Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai kompetisi BMX dan skateboard. Sebagian lagi melihatnya sebagai pertunjukan seni. Yang kami lihat adalah ruang perjumpaan.
Di sana, Komunitas Skaters Kota Banda Aceh memimpin penyelenggaraan kegiatan. SPS Revival menghubungkan berbagai simpul kolaborasi, sementara platform Darud Dunia mendokumentasikan proses dan pengetahuan yang lahir darinya. Radio komunitas membangun percakapan, ruang literasi menghidupkan pembelajaran, ruang kreatif membuka perjumpaan, dan berbagai komunitas bertumbuh melalui kekuatan masing-masing.
Tidak ada yang diminta meninggalkan identitasnya. Justru setiap orang didorong untuk tumbuh melalui pengalaman dan keahliannya sendiri. Di situlah saya memahami bahwa ekosistem bukan berarti menyeragamkan. Ekosistem justru memungkinkan setiap orang tetap menjadi dirinya sendiri, sambil menemukan makna ketika terhubung dengan yang lain.
Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa tantangan terbesar bukanlah menyelenggarakan sebuah kegiatan. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga hubungan antarmanusia setelah kegiatan itu selesai. Dari kesadaran itulah lahir gagasan awal tentang Lingkar Wali SPS Revival & Darud Dunia.
Bukan organisasi baru. Bukan pula dewan kehormatan. Melainkan ruang belajar lintas generasi yang diharapkan dapat menjaga arah perjalanan, membuka jejaring, dan memastikan nilai-nilai yang sedang dibangun tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu generasi.
Sebab setiap gerakan memerlukan dua kekuatan. Mereka yang menggerakkan. Dan mereka yang menjaga arah. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk membangun panggung, tetapi belum cukup sungguh-sungguh membangun rumah bagi kehidupan yang lahir setelah panggung itu selesai.
Sementara kota yang sehat tidak ditandai oleh banyaknya festival, melainkan oleh semakin banyaknya ruang yang membuat orang mau bertemu, belajar, berkarya, dan saling menguatkan.
Barangkali di situlah makna Keuneubah Endatu pada abad ini.
Warisan terbaik bukan lagi sekadar bangunan, artefak, atau dokumen, melainkan kemampuan sebuah masyarakat untuk terus melahirkan manusia-manusia yang mampu berkolaborasi dan mencipta.
Festival akan selesai. Panggung akan dibongkar.
Spanduk akan diturunkan. Namun apabila dari setiap perjumpaan lahir persahabatan, komunitas baru, ruang kreatif, pengetahuan, dan generasi yang ingin melanjutkan perjalanan, maka sesungguhnya karya seninya masih terus dipertunjukkan. Bukan di atas panggung. Melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah karya seni terbesar yang dapat kita wariskan. Bukanlah sebuah pertunjukan. Melainkan sebuah ekosistem.



















