Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi/Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Kota Banda Aceh
Media tidak pernah sekadar menyampaikan berita. Setiap hari media memilih kenyataan mana yang layak mendapat perhatian lebih dulu. Di situlah pengaruhnya bekerja. Bukan karena media menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, melainkan karena media ikut menentukan apa yang dianggap penting untuk dipikirkan.
Belakangan ini saya semakin sering mempertanyakan cara perhatian itu dibentuk.
Ruang pemberitaan hampir selalu dipenuhi pelantikan, peresmian, konferensi pers, penandatanganan kerja sama, seminar, penghargaan, dan berbagai agenda kelembagaan. Pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, perusahaan, hingga partai politik tampil sebagai sumber informasi yang paling konsisten. Semua kegiatan itu sah dan memang layak diberitakan. Tidak ada persoalan pada keberadaannya.
Yang mengusik justru proporsinya.
Pada saat yang sama, kita masih berhadapan dengan kualitas pendidikan yang belum merata, ruang kreatif yang terus menyusut, kesempatan kerja yang semakin sempit, usaha-usaha kecil yang bertahan tanpa banyak dukungan, hingga anak-anak muda yang kesulitan menemukan ruang untuk tumbuh. Persoalan-persoalan seperti ini sesekali memang muncul di media, tetapi jarang bertahan cukup lama untuk menjadi perhatian bersama. Ia cepat bergeser oleh agenda berikutnya yang sudah lebih siap dipublikasikan.
Di titik itulah saya mulai bertanya: apakah perhatian publik masih mengikuti kebutuhan masyarakat, atau perlahan mengikuti arus informasi yang paling siap diproduksi?
Pertanyaan ini tidak lahir dari anggapan bahwa media berpihak kepada pemerintah atau kepada kelompok tertentu. Penjelasannya jauh lebih sederhana. Institusi memiliki perangkat komunikasi yang bekerja setiap hari. Ada humas, dokumentasi, data, juru bicara, hingga strategi distribusi informasi yang semakin profesional. Semua itu memudahkan kerja redaksi.
Kehidupan masyarakat tidak pernah bekerja seperti itu.
Ia tidak mengirim siaran pers. Ia tidak menjadwalkan konferensi pers. Ia tidak memiliki tim media yang memastikan setiap persoalan memperoleh ruang pemberitaan. Kenyataan hadir apa adanya. Kalau tidak dicari, ia sering kali tidak terlihat.
Di sinilah ukuran sebuah media mulai berbeda. Media dapat memilih jalan yang paling mudah dengan menunggu informasi datang ke meja redaksi. Namun media juga dapat memilih pekerjaan yang jauh lebih sulit: mendatangi kenyataan yang tidak pernah mengirim undangan.
Perubahan teknologi membuat keadaan ini semakin rumit. Hampir semua institusi kini mampu memproduksi informasi dengan kualitas yang semakin baik. Pada saat yang sama, media sosial menjadikan perhatian sebagai komoditas. Yang paling cepat, paling emosional, dan paling ramai lebih mudah menguasai ruang publik dibandingkan informasi yang membutuhkan waktu untuk dipahami.
Keadaan seperti ini justru memperbesar tanggung jawab media profesional. Nilai media tidak lagi terletak pada kecepatan. Media sosial hampir selalu lebih cepat. Nilai media lahir dari kemampuannya memeriksa informasi, menyusun konteks, menghubungkan berbagai peristiwa, lalu menghadirkannya dalam ukuran yang lebih adil.
Saya tidak percaya bahwa ruang publik akan sehat jika hanya dipenuhi agenda institusi. Sebaliknya, saya juga tidak percaya media harus memusuhi pemerintah, kampus, organisasi masyarakat, perusahaan, atau partai politik. Semuanya memiliki peran yang sah dalam kehidupan publik. Yang perlu terus dijaga adalah keseimbangannya.
Sebab masyarakat tidak hidup hanya dari kebijakan, pelantikan, pidato, atau seremoni. Masyarakat hidup dari pekerjaan, pendidikan, kebudayaan, ruang belajar, ruang berkarya, ruang bertemu, dan berbagai pengalaman yang sering berlangsung tanpa sorotan kamera.
Kalau pengalaman-pengalaman itu terus berada di pinggir pemberitaan, lama-kelamaan ia juga akan berada di pinggir perhatian kita.
Barangkali di situlah persoalan yang sesungguhnya.
Media bukan hanya mencatat apa yang terjadi hari ini. Media ikut menentukan pengalaman apa yang akan diingat oleh sebuah masyarakat beberapa tahun kemudian. Apa yang terus diberitakan akan menjadi ingatan bersama. Apa yang terus diabaikan perlahan menghilang, seolah tidak pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kita.
Saya tidak sedang menawarkan jawaban. Saya hanya merasa pertanyaan ini terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja.
Apakah perhatian publik masih tumbuh dari kenyataan yang benar-benar dialami masyarakat, atau mulai lebih banyak mengikuti siapa yang paling siap menjadi berita?




















