Setelah menjajaki berbagai bentuk kemitraan, termasuk bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, ikhtiar Skate Park Stage (SPS) Revival dan Darud Dunia kembali melangkah melalui pendekatan yang paling mendasar: menghadirkan ruang perjumpaan.
Ikhtiar tersebut diwujudkan melalui Ruang Perjumpaan #001 yang berlangsung pada Selasa (14/7/2026) malam di Halaman JEDA Rafly Kande, Banda Aceh. Pertemuan ini menjadi kelanjutan dari rangkaian proses yang sedang ditempuh SPS Revival dan Darud Dunia untuk membangun sebuah ekosistem kolaborasi yang mempertemukan seni, kebudayaan, pendidikan, literasi, teknologi, kewirausahaan, investasi sosial, hingga pembangunan manusia dalam satu ruang dialog yang terbuka.
Berbeda dengan forum formal pada umumnya, Ruang Perjumpaan tidak dirancang sebagai seminar, rapat organisasi, ataupun peluncuran program. Para peserta hanya diajak duduk bersama, saling mengenal, memperkenalkan perjalanan hidup, berbagi pengalaman, menyampaikan kegelisahan, sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan kolaborasi yang mungkin tidak pernah lahir apabila hubungan antarmanusia hanya dibangun melalui media sosial.
Semangat tersebut bahkan telah ditegaskan sejak undangan disebarkan melalui kalimat sederhana, “Before We Roll, We Meet.” Sebab sebelum membangun sebuah gerakan, manusia terlebih dahulu perlu membangun kepercayaan melalui perjumpaan.
Pada pembukaan forum, peserta diajak melihat kembali jejak bertumbuhnya SPS Revival hingga berkembang menjadi bagian dari ikhtiar yang lebih luas melalui Darud Dunia. Skate Park Stage dipahami bukan sekadar ruang bagi aktivitas seni ataupun olahraga, melainkan titik temu yang diharapkan mampu memperjumpakan berbagai disiplin pengetahuan, pengalaman, profesi, komunitas, serta kepedulian sosial dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Selama lebih dari tiga jam, forum berlangsung tanpa presentasi formal. Para peserta bergantian memperkenalkan perjalanan hidup dan bidang pengabdiannya masing-masing. Hadir pekerja psikososial yang pernah mendampingi penyintas tsunami Aceh bersama UNICEF, pegiat pendidikan alternatif, pengelola rumah baca, pegiat literasi, musisi, penyair, pekerja hak asasi manusia, praktisi teknologi informasi, fotografer, pegiat teater, organisasi profesi seni, hingga komunitas skateboard.
Keragaman latar belakang tersebut justru memperlihatkan satu kenyataan yang sama. Hampir semua peserta merasakan semakin berkurangnya ruang-ruang publik yang memungkinkan masyarakat saling bertemu, berdialog, belajar, dan membangun kolaborasi lintas bidang.
Persoalan regenerasi juga menjadi salah satu perhatian penting. Forum mencatat bahwa partisipasi Generasi Z masih relatif terbatas dalam ruang-ruang semacam ini. Namun kondisi tersebut tidak dipandang sebagai kelemahan generasi muda semata. Sebaliknya, diskusi berkembang pada kesadaran bahwa generasi sebelumnya memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang belajar, keteladanan, pendampingan, serta kesempatan yang lebih terbuka agar generasi muda dapat tumbuh sebagai pelaku utama dalam perjalanan SPS Revival dan Darud Dunia.
Kesadaran itu kemudian melahirkan gagasan awal tentang Lingkar Wali Perjumpaan, yaitu jejaring lintas profesi dan lintas generasi yang diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman, membuka jejaring, serta mendampingi tumbuhnya generasi muda tanpa mengambil alih ruang kreativitas mereka.
Forum juga memperkenalkan pembaruan Investment Prospectus SPS Revival × Darud Dunia. Dokumen tersebut tidak diposisikan sebagai proposal pendanaan, melainkan sebagai living prospectus yang terus berkembang mengikuti bertambahnya gagasan, jejaring, serta berbagai bentuk partisipasi yang lahir dari individu, komunitas, dunia usaha, pemerintah, lembaga filantropi, maupun calon mitra lainnya. Prospektus ini diharapkan menjadi peta kolaborasi yang terus diperbarui seiring bertumbuhnya ekosistem.
Menjelang penutupan, suasana berubah menjadi lebih reflektif ketika Rafly Kande, yang juga tuan rumah, menghadirkan ‘semedi musikal’ melalui perpaduan petikan gitar, nyanyian, dan pembacaan puisi bersama sejumlah penyair lintas generasi. Dalam kesempatan tersebut, Rafly kembali mengingatkan tentang jejak kosmopolitan Aceh di kawasan Selat Malaka sebagai modal filosofis, historis, dan geografis untuk membangun masa depan Aceh yang tetap berakar pada identitas kebudayaannya sekaligus terbuka terhadap perkembangan dunia.
Ruang Perjumpaan kemudian ditutup dengan ajakan untuk kembali berjumpa pada pelaksanaan SPS Revival, Sabtu, 18 Juli 2026, di Skate Park Lamprit. Forum menegaskan bahwa kehadiran SPS Revival pada momentum tersebut bukan untuk mengambil alih agenda Kardo National Stage Qualifier 2026 yang telah lama dipersiapkan komunitas skateboard Aceh. Sebaliknya, SPS Revival hadir sebagai ikhtiar untuk melapisi ruang yang telah lebih dahulu dihidupkan para skaters melalui berbagai aktivasi seni, budaya, literasi, dialog publik, dan ruang perjumpaan yang berjalan berdampingan dengan agenda utama mereka.
Pendekatan tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap komunitas skateboard Aceh yang selama bertahun-tahun menjaga Skate Park Lamprit tetap hidup sebagai salah satu ruang publik yang penting di Banda Aceh. Apabila langkah awal ini bertumbuh dengan baik, SPS Revival dan Darud Dunia berharap aktivasi serupa dapat terus berlangsung secara berkala setiap Sabtu sore bersama komunitas skateboard dan berbagai komunitas lainnya, sehingga Skate Park Lamprit berkembang menjadi ruang bersama yang semakin kaya manfaat bagi masyarakat.
Bagi SPS Revival dan Darud Dunia, membangun ekosistem tidak pernah dimulai dengan menggantikan apa yang telah ada. Sebaliknya, ia tumbuh melalui kesediaan untuk memperkuat, melengkapi, dan menghubungkan berbagai ikhtiar baik yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat.
Karena sebelum membangun panggung, selalu ada satu pekerjaan yang harus didahulukan: membangun perjumpaan.
Ari J. Palawi



















