BANDA ACEH | SAGOE TV – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali mengukuhkan lima profesor baru dalam Sidang Terbuka Senat Akademik di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Kota Banda Aceh, Senin (13/4/2026). Penambahan ini membuat jumlah guru besar USK kini mencapai 248 orang.
Adapun lima profesor baru yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Dr. Samingan, M.Si, Prof. Dr. Iskandar AS., S.Pd., M.A, Prof. Dr. Drs. Denni Iskandar, M.Pd, Prof. Dr. M. Ikhsan, M.Pd, dan Prof. Dr. Saminan, M.Pd.
Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, mengatakan, pengukuhan kali ini terasa istimewa karena merupakan sambutan pertama dirinya sebagai rektor baru USK pada Sidang Terbuka Senat Akademik sejak diamanahkan memimpin universitas tersebut.
Mirza berujar saat ini USK telah memiliki 248 profesor yang menjadi pilar utama pengembangan ilmu pengetahuan. Kekuatan tersebut diperkuat oleh 412 lektor kepala. Dari total profesor yang ada, sebanyak 181 orang (72,98%) berasal dari bidang sains dan 67 orang (27,02%) dari bidang humaniora.
“Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita semua untuk bersama-sama membangun Universitas ini. Membangun ekosistem riset dan inovasi di kampus yang kita cintai ini, sehingga segala kepakaran yang kita miliki mampu memberi dampak yang nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dari Fungi hingga Etnosains
Dalam prosesi tersebut, Prof. Samingan memaparkan riset mendalam mengenai potensi fungi sebagai agen pengendalian hayati. Ia mengungkapkan bagaimana fungi lokal Indonesia dapat dikembangkan menjadi bioinsektisida alami untuk melemahkan hama seperti rayap, sekaligus menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.
Selanjutnya, Prof. Iskandar AS menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi akademik melalui pendekatan pengajaran berbasis genre (Genre-Based Approach). Kajiannya membuktikan bahwa pengajaran sistematis sangat krusial agar gagasan ilmiah mahasiswa dapat diterima secara meyakinkan di komunitas akademik global.
Sementara itu, Prof. Denni Iskandar membawa riset mengenai revitalisasi bahasa Aceh yang adaptif terhadap Generasi Y dan Z. Ia membedah pergeseran linguistik pada kaum muda dan menawarkan strategi pelestarian bahasa daerah agar tetap dinamis dan tidak punah ditelan globalisasi digital.
Pemaparan orasi ilmiah dilanjutkan oleh Prof. M. Ikhsan yang fokus pada pengembangan Pembelajaran Geometri Berbasis Teori Van Hiele. Risetnya menawarkan panduan bagi guru untuk memahami profil kognitif siswa secara akurat, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan terarah bagi pengembangan logika matematis.
Terakhir, Prof. Saminan mengusung konsep Ethnoscience Pedagogy, yakni pengintegrasian konsep fisika dengan kearifan lokal. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna (meaningful learning) bagi siswa dengan cara menghubungkan fenomena sains nyata dengan nilai budaya dan identitas lokal.
Rektor USK meyakini kepakaran kelima profesor baru ini akan berkontribusi maksimal dalam memecahkan berbagai persoalan bangsa. Ia menekankan bahwa dalam konteks USK sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), peran profesor menjadi semakin krusial.
“Kepakaran yang dimiliki para profesor USK merupakan aset strategis yang dapat dioptimalkan untuk menciptakan sumber-sumber pendapatan baru bagi universitas. Langkah ini bukan semata orientasi finansial, melainkan bagian dari upaya memperkuat kemandirian institusi,” kata Mirza.
Skema Revenue Sharing 60:40
Sebagai langkah konkret mendorong kemandirian tersebut, Rektor USK mengumumkan kebijakan skema revenue sharing atau berbagi pendapatan di lingkungan USK dengan komposisi 60 persen untuk fakultas dan 40 persen untuk universitas.
“Pembagian ini bukan sekadar mekanisme administratif, melainkan instrumen kebijakan yang bertujuan untuk memacu fakultas agar lebih proaktif dan inovatif dalam mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki. Pada akhirnya, langkah ini diharapkan memperkuat peran USK sebagai perguruan tinggi yang adaptif, produktif, dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Mirza.[]




















