• Tentang Kami
Saturday, May 2, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
praktisi seni, etnomusikolog, dan akademisi Universitas Syiah Kuala

Tiga setengah ribu tahun lalu, di kota kuno Ugarit, seseorang menuliskan sebuah lagu di atas tablet tanah liat. Ia bukan lagu perang, bukan lagu pesta kerajaan, tetapi doa sederhana kepada dewi kesuburan agar keluarga diberkahi anak dan masyarakat tetap bertahan. Tablet itu kini dikenal sebagai Hurrian Hymn No. 6, nyanyian tertua yang masih memiliki teks dan notasi musik lengkap.

Bagi saya, lagu ini bukan sekadar catatan sejarah musik. Ia merekam cara manusia memahami kehidupan bersama, bagaimana solidaritas menjadi fondasi peradaban, dan bagaimana setiap individu dianggap penting bagi keberlangsungan komunitas.

BACA JUGA

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Seorang penonton rekonstruksi lagu di YouTube menulis:

“The oldest song for which we have written both lyrics and musical notation is a prayer for the creation of new people and families… What a world we could have if we didn’t see this as a command to outcompete one another, but instead to cherish every person who lives.”

Komentar ini menekankan satu hal yang selalu saya amati dalam budaya: manusia sejak awal bertahan bukan karena persaingan, tapi karena kerja sama. Gagal panen, penyakit, bencana alam semua ancaman itu mengajarkan satu hal sederhana: setiap orang yang lahir berharga bagi kelompok.

Komentar lain datang dari Turki:

“…It is astonishing to hear how the Hurrians, a civilization that lived 3500 years ago, used the same melodies and emotions we use today… Geography itself creates the music. We just listen and play.”

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar bunyi yang dibuat manusia. Ia lahir dari interaksi antara manusia, lingkungan, dan pengalaman sosial. Dari perspektif ini, tradisi musik Aceh dari rapa’i hingga saman bukan hanya hiburan, tetapi juga cerminan cara masyarakat memahami ruang, waktu, dan kebersamaan.

Baca Juga:  APBA Perubahan 2025 Senilai Rp11,1 Triliun Disahkan, Gubernur Aceh Dorong Optimalisasi Realisasi Anggaran

Aceh memiliki sejarah panjang dalam membangun dan merawat nilai sosial. Meunasah, dayah, dan ruang komunitas bukan hanya tempat ibadah atau belajar; ia adalah arena interaksi yang membentuk solidaritas. Generasi sebelumnya mengajarkan bahwa menjaga adat, saling membantu, dan menghargai sesama adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya seremoni.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, perubahan sosial dan modernisasi menghadirkan tantangan. Tradisi yang dulu hidup dalam keseharian kampung kini sering muncul hanya dalam bentuk seremoni. Pengetahuan lokal tentang lingkungan, pola sosial, maupun nilai budaya perlahan dianggap kurang relevan oleh generasi muda yang dibesarkan dalam ritme cepat dan budaya instan.

Hal serupa terlihat pada tata kelola publik. Banyak masyarakat menyaksikan praktik birokrasi yang tidak selalu mencerminkan profesionalisme dan tanggung jawab. Jabatan yang diisi tanpa kompetensi dan keputusan yang diambil tanpa akuntabilitas berdampak tidak hanya pada pelayanan publik, tetapi juga pada kualitas kehidupan sosial dan budaya. Keteladanan publik menjadi penting karena ia menentukan bagaimana nilai-nilai dasar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi dari nyanyian Hurrian ini jelas: masyarakat yang ingin bertahan dan maju harus menempatkan kepentingan komunitas di atas kepentingan sempit individu atau kelompok. Kemajuan yang bertahan lama bukan hanya soal ekonomi atau infrastruktur, tetapi soal kualitas etika sosial dan kemampuan merawat nilai.

Aceh memiliki modal sosial dan budaya yang besar. Tradisi intelektual dan keagamaan yang panjang, ditambah generasi muda yang aktif dalam bidang kreatif dari produksi film independen, musik digital, hingga konten budaya menunjukkan potensi kebangkitan kultural tetap ada. Tantangannya adalah memastikan inovasi modern tetap berpijak pada nilai dasar: kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kehidupan bersama.

Baca Juga:  May Day di Banda Aceh, Jurnalis Gowes Bersama Suarakan Hak Pekerja Media

Nyanyian dari Ugarit bertahan ribuan tahun bukan karena ia spektakuler, tetapi karena seseorang merasa penting untuk merekam dan mewariskannya. Ini mengingatkan kita bahwa jejak peradaban tidak selalu berupa bangunan megah atau catatan sejarah besar. Ia lahir dari tindakan sederhana: mendokumentasikan pengalaman, merawat tradisi, dan menghargai nilai kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan bagi masyarakat Aceh saat ini sederhana namun kritis: nilai apa yang kita rawat hari ini sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang? Apakah masyarakat masih menghargai solidaritas, kompetensi, tanggung jawab, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari? Apakah budaya lokal yang membentuk identitas Aceh tetap hidup di tengah arus modernisasi dan globalisasi?

Jika pertanyaan ini dijawab dengan kesadaran, Aceh tidak hanya akan menjadi tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga masyarakat yang meninggalkan jejak yang dapat didengar dan dipahami oleh generasi masa depan, persis seperti nyanyian Hurrian yang masih bisa kita dengar lebih dari tiga ribu tahun setelah ditulis.

Baca juga: Hurrian Hymn No.6, Musik Tertua dalam Peradaban Dunia

Nyanyian itu sederhana, nadanya asing bagi telinga modern, tapi pesannya jelas: keberlangsungan masyarakat bergantung pada kemampuan mereka merawat satu sama lain, menghargai nilai, dan menjaga tradisi yang memperkuat kehidupan bersama. Aceh, dengan sejarah dan potensinya, memiliki kesempatan yang sama. Masa depan yang kuat lahir dari kesediaan masyarakat untuk merawat nilai yang terbukti menjaga kehidupan bersama, hari ini, untuk generasi mendatang.[]

Tags: 3.400 TahunacehMakin Tahu IndonesiaNyanyianopiniSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif
SENI

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

by SAGOE TV
April 30, 2026
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana
SENI

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan
SENI

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

by Anna Rizatil
April 18, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

by Anna Rizatil
April 16, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

64 Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

May 1, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Hardiknas 2026 Universitas Syiah Kuala Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

Hardiknas 2026: USK Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

May 1, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Tasyakuran Milad ke-98, PERTI Abdya Ziarahi Makam Para Ulama

Tasyakuran Milad ke-98, PERTI Abdya Ziarahi Makam Para Ulama

May 2, 2026
Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

April 24, 2026

EDITOR'S PICK

Marlina Tinjau Pelayanan Kesehatan di RSUDZA, Jenguk Pasien dan Pastikan Layanan Publik Optimal

Marlina Tinjau Pelayanan Kesehatan di RSUDZA

May 1, 2025
Liga 1 Ganti Nama Jadi Super League, Liga 2 Menjadi Championship

Liga 1 Ganti Nama Jadi Super League, Liga 2 Menjadi Championship

July 8, 2025
Warga Aceh Utara Serahkan 2 Senjata Api Sisa Konflik ke Polisi

Warga Aceh Utara Serahkan 2 Senjata Api Sisa Konflik ke Polisi

October 22, 2024
KIP Aceh Buat Heboh

KIP Aceh Buat Heboh

September 23, 2024
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.