Oleh: Risnawati Ridwan
ASN pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Namanya Faris, usianya 11 tahun. Masih bersekolah di madrasah ibtidaiyah kelas 5. Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan yang spesial. Pertama kalinya Faris mengikuti kegiatan Daurah Ramadhan dalam program karantina selama 20 hari. Daurah ramadhan yang diikuti merupakan program tahunan yang dilaksanakan dan berpusat di Mesjid Jamik Darussalam.
Program karantina itu sendiri merupakan salah satu program tahfidz dalam kegiatan Daurah Al-Quran RDK 1447 H/2026 dan bagi peserta diharuskan untuk menetap tinggal dalam lingkungan masjid. Sedangkan program lainnya adalah non karantina yang mengikuti kegiatan pembelajaran tahfidz hanya datang sebelum sesinya dan kemudian bisa pulang. Adapun bagi peserta program karantina, peserta melakukan aktivitas di lingkungan masjid selama 24 jam selama 20 hari.
Bagi Faris, keikutsertaannya dalam program karantina berawal dari ajakan sepupunya. Kebetulan sepupunya telah berpengalaman ikut program karantina di tempat yang sama pada tahun yang lalu. Dengan arahan dan segala pertimbangan akhirnya Faris mengikuti kegiatan tersebut walaupun dengan perasaan khawatir dan deg degan.
Salah satu pertimbangan yang diungkapkan anak-anak ini adalah bahwa karantina sebagai latihan mereka sebelum mereka melanjutkan pendidikan di pondok pesantrean saat tamat dari sekolah dasar. Keinginan melatih diri ini merupakan kunci awal bagi orang tua bahwa si anak telah mulai belajar menguatkan mental dalam menghadapi masa depannya.
Belajar di pondok pesantren merupakan ujian bagi anak dan orang tua. Persiapan mental ini lah yang patut ditiru. Mengikuti kegiatan daurah program karantina dapat menjadi latihan sebelum masuk ke pondok secara definitif. Dengan kata lain, karantina selama dua puluh hari akan mengajarkan si anak dan orang tua sebelum memasuki masa sekolah berasrama seperti pesantren.
Beberapa hal yang dapat dipelajari oleh anak-anak dan orang tuanya selama masa karantina:
Pertama, kesiapan mental berpisah sementara waktu dengan tujuan menuntut ilmu. Berpisah dengan keluarga itu sangat menyulitkan. Apalagi bagi anak-anak yang terbiasa dengan keluarga lengkap. Bagi orang tua masalah berpisah ini biasanya menjadi tantangan tersendiri bagi ibunya. Mempersiapkan mental untuk berpisah dalam kegiatan sehari-hari mungkin tidak menjadi masalah karena pada malam harinya akan kembali bersama bernaung dalam atap yang sama. Dengan mengikuti kegiatan karantina, otomatis anak dan orang tua akan berpisah dalam jangka waktu tertentu.
Berpisah tidur selama proses karantina juga melatih mindset bagi orang tua dan anaknya bahwa perpisahan ini hanya bersifat sementara. Seperti pepatah orang tua mengatakan, “Selalu ada yang pertama untuk smeua hal” dapat menjadi acuan bahwa momen pertama berpisah pertama kali akan menjadi sulit. Namun perpisahan berikutnya tidaklah lebih sulit daripada yang pertama.
Kedua, momen karantina yang dapat menjadi momen pembelajaran bagi si anak tentang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan menjaga barang-barang pribadi. Tidak jarang kita dengar bahwa anak-anak di pondok pesantren selalu kehilangan barang-barang pribadinya. Tentu saja penyebabnya banyak, ada yang memang di ghasab atau dicuri, ada juga disebabkan keteledoran si anak sehingga barang-barang pribadinya tidak ditemukan.
Selama karantina, anak-anak harus menjaga barang pribadinya sendiri. Namun berbeda dengan kondisi di pondok, barang-barang selama karantina lebih sedikit daripada saat masuk ke pondok. Menjaga barang ini tentu saja lebih mudah dilakukan. Namun melatih untuk menjaga barang-barang ini, orang tua harus berperan penuh memberikan arahan dan petunjuk agar anak mengerti apa yang harus dilakukannya. Bahkan dalam momen ini juga, anak akan belajar tentang menggunakan barang pribadi secara elok, seperti memakai pakaian, mengerti pakaian yang bagaimana digunakan untuk mengaji dan pakaian bagaimana digunakan untuk istirahat. Sedangkan saat dirumah ada orang tua yang memberikan arahan langsung.
Ketiga, merupakan pembelajaran yang terakhir, belajar ikhlas dengan kesusahan selama berjauhan dengan rumah dan orang tua. Kedua belah pihak belajar hal ini dan karantina merupakan waktu yang tepat untuk melatih keihklasan ini. Dengan menelusuri niat dan keinginan masuk pondok maka jalan berlatih menuju ikhlas tentu saja lebih mudah. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa mengikuti karantina hanyalah 1% dari waktu jika ananda masuk ke pondok. Tetapi membutuhkan effort yang sama menuju keihklasan. Atas nama menuntut ilmu, ikhlas adalah kunci agar keberkahan ilmu dapat diperoleh.
Program karantina dan belajar di pondok pesnatren adalah sama-sama dalam rangka menuntut ilmu. Sedangkan niat menuntut ilmu adalah niat yang tinggi. Seperti hadist nabi, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Selain itu, orang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah dan keutamaannya seperti bulan purnama dibandingkan bintang-bintang.[]




















