• Tentang Kami
Wednesday, October 14, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

Catatan tentang Pengetahuan, Kreativitas, dan Masa Depan Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
July 8, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Ari J. Palawi. Foto: Arsip

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi /Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh

Ada satu gejala yang semakin sering saya temukan dalam berbagai perjumpaan di Aceh. Gejala ini tidak mudah dikenali karena berlangsung tanpa suara, tanpa konflik, bahkan sering tersembunyi di balik ramainya kegiatan, banyaknya komunitas, dan semakin luasnya akses terhadap teknologi.

Kita tidak sedang kekurangan orang berbakat. Kita juga tidak kekurangan seniman, guru, peneliti, pelaku usaha, pekerja kreatif, atau anak-anak muda yang ingin melakukan sesuatu. Yang mulai langka justru hubungan yang memungkinkan pengalaman berpindah dari mereka yang telah berjalan kepada mereka yang baru memulai. Di situlah letak perbedaan kumpulan orang berbakat dan sebuah peradaban.

BACA JUGA

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

Peradaban tidak lahir hanya karena hadir orang-orang hebat. Ia bertahan karena sebuah masyarakat memiliki cara untuk mewariskan pengetahuan, etos, cara berpikir, dan keberanian kepada generasi berikutnya. Ketika mata rantai itu melemah, masyarakat masih dapat menghasilkan banyak kegiatan, tetapi semakin sedikit manusia yang benar-benar bertumbuh.

Aceh pernah memiliki mekanisme pewarisan seperti itu. Didong di Gayo, Dendang Sikambang di Kepulauan Banyak, hikayat, seni tutur, hingga berbagai praktik kebudayaan lain tidak sekadar menghasilkan pertunjukan. Semua itu merupakan cara masyarakat memindahkan pengalaman hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam syair tersimpan pengetahuan. Di dalam irama tersimpan cara membaca perubahan. Di dalam perjumpaan tersimpan pendidikan karakter yang tidak pernah ditulis dalam kurikulum.

Hari ini sebagian besar tradisi itu masih dapat kita saksikan. Festival tetap berlangsung. Pertunjukan masih digelar. Dokumentasi semakin banyak. Yang patut kita tanyakan justru hal yang lebih mendasar: apakah pengetahuan yang dikandungnya masih berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya?

Kebudayaan tidak selalu lenyap ketika bentuknya berubah. Yang lebih sering terjadi, ia perlahan kehilangan daya ketika masyarakat tidak lagi memahami alasan mengapa tradisi itu pernah lahir.

Persoalan serupa juga mulai terlihat dalam dunia pendidikan dan kreativitas. Kecerdasan buatan kini mampu membantu menghasilkan ilustrasi, musik, video, rancangan desain, bahkan tulisan dalam hitungan detik. Kemampuan teknis tidak lagi menjadi sesuatu yang langka. Yang justru semakin bernilai adalah sesuatu yang tidak dapat diproduksi mesin: pengalaman hidup, empati, intuisi, pertimbangan moral, kemampuan membaca konteks, dan keberanian mengambil keputusan.

Di tengah perubahan seperti ini, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup lagi diukur dari seberapa banyak informasi yang dipindahkan kepada mahasiswa atau siswa. Yang lebih penting adalah apakah pendidikan masih mampu membentuk manusia yang memiliki kedalaman berpikir dan kepekaan terhadap kehidupan. Teknologi dapat mempercepat proses berkarya, tetapi tidak dapat menggantikan proses menjadi manusia.

Aceh juga pernah memperoleh pelajaran yang sama melalui sejarah Arun. Selama bertahun-tahun, kekayaan alam menghadirkan optimisme, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan besar. Namun waktu kemudian menunjukkan bahwa sumber daya tidak otomatis melahirkan masyarakat yang lebih siap menghadapi masa depan. Cadangan energi dapat habis. Industri dapat berpindah. Investasi dapat berubah arah. Yang menentukan keberlanjutan sebuah daerah bukan apa yang berhasil diambil dari perut bumi, melainkan apa yang berhasil dibangun di dalam manusianya.

Karena itu, ketika Aceh kembali menghadapi peluang besar melalui berbagai investasi dan pengembangan sumber daya, pertanyaan yang paling mendasar bukanlah berapa besar nilai ekonominya. Pertanyaannya adalah: apakah momentum ini sedang menghasilkan generasi yang lebih cakap, lebih kreatif, lebih tangguh, dan lebih siap memimpin zamannya?

Barangkali di sinilah relevansi ikhtiar seperti Skate Park Stage (SPS) Revival dan Darud Dunia perlu mendapatkan dukungan penuh bangsa Aceh, khususnya warga Kota Banda Aceh. Ia tidak lahir karena Aceh kekurangan festival. Ia tidak dibangun karena kita memerlukan satu lagi organisasi. Yang hendak dijawab adalah persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana mempertemukan kembali pengalaman, pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu SPS Revival tidak dimulai dari panggung, melainkan dari perjumpaan. Bukan perjumpaan yang berhenti sebagai seremoni, tetapi yang memungkinkan seorang pelajar berbicara dengan seniman, mahasiswa berdiskusi dengan akademisi, penggerak komunitas belajar dari pelaku usaha, pekerja kreatif bertemu pendidik, dan generasi muda memperoleh kesempatan mendengar pengalaman yang selama ini hanya mereka baca dari kejauhan. Dari kebutuhan itulah lahir gagasan Lingkar Wali Perjumpaan untuk amanah SPS Revival dan Darud Dunia.

Istilah wali di sini tidak dimaksudkan sebagai simbol kehormatan, apalagi struktur kekuasaan. Ia lebih dekat kepada makna penjaga amanah: orang-orang yang bersedia memastikan pengalaman tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sebagian menjaga arah kebudayaan dan diplomasi budaya, seperti Rafly Kande. Sebagian menghubungkan pengetahuan dengan ruang hidup masyarakat, seperti Dr. Izziah Hasan. Sebagian lain menguatkan kapasitas manusia melalui pendampingan psikologis, sebagaimana Yuni Hendarmini yang selama bertahun-tahun mendampingi masyarakat menghadapi trauma, kehilangan, dan pemulihan pascabencana.

Ada yang mengembangkan pemberdayaan ekonomi komunitas seperti Mussanurvan. Ada yang membuka ruang tumbuh bagi anak-anak melalui pendidikan seni seperti Novirela Minang Sari. Ada yang merawat literasi, dokumentasi, dan memori kolektif seperti Ahmad Arif dan Muhrain. Ada yang menghubungkan gerakan dengan media dan jejaring publik seperti Taufik Maroe. Ada pula yang menjaga denyut budaya urban agar tetap menjadi ruang tumbuh generasi baru seperti Nainunis. Figur lain datang dari desain komunikasi visual, industri kreatif, riset, kewirausahaan, hingga pengembangan ruang publik. Mereka tidak dipertemukan untuk menjadi pusat perhatian. Mereka dipertemukan agar pengalaman panjang yang mereka miliki tidak berhenti sebagai prestasi pribadi, melainkan berubah menjadi jalan yang dapat dilalui lebih banyak orang.

Mungkin inilah pekerjaan paling mendesak bagi Aceh hari ini. Bukan memperbanyak acara. Bukan memperbesar panggung. Melainkan membangun kembali cara sebuah masyarakat mewariskan dirinya.

Kekayaan alam dapat dicari. Infrastruktur dapat dibangun kembali. Yang jauh lebih sulit dipulihkan adalah mata rantai pengetahuan yang terputus. Ketika itu terjadi, setiap generasi dipaksa belajar kembali dari awal, seolah tidak pernah ada pengalaman yang diwariskan sebelumnya.

Aceh tidak kekurangan orang hebat. Yang masih harus diperjuangkan adalah bagaimana orang-orang itu saling menemukan, saling menguatkan, dan memastikan bahwa pengalaman hidup mereka tidak ikut berakhir bersama usia mereka. Tidak ada peradaban yang bertahan hanya karena memiliki orang-orang hebat. Peradaban bertahan karena orang-orang hebat itu memilih untuk tidak berjalan sendirian. Mereka membuka jalan, membagikan pengalaman, dan menyiapkan penerus yang kelak mampu melampaui dirinya. Di sanalah sesungguhnya masa depan Aceh sedang dipertaruhkan.

Tags: AcehAri J. PalawiKreativitasMasa Depan AcehopiniPengetahuanPeradaban
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances
SENI

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

by SAGOE TV
October 11, 2026
Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara
SENI

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

by SAGOE TV
October 10, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda
SENI

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

by SAGOE TV
September 28, 2026
SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH
SENI

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

by SAGOE TV
September 22, 2026
Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Nasir Djamil: Warung Kopi di Aceh Bisa Jadi Ruang Diskusi Buku

Nasir Djamil: Warung Kopi di Aceh Bisa Jadi Ruang Diskusi Buku

October 10, 2026
Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
LPS bayar klaim nasabah BPRS Aceh

LPS Bayar Rp46,80 Miliar Klaim Nasabah 4 BPRS di Aceh

October 8, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

October 11, 2026
PORA XV Aceh Jaya Diundur ke Mei 2027

PORA XV Aceh Jaya Diundur ke Mei 2027

October 8, 2026
Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

October 10, 2026
Mahasiswa UIA Juara 1 Lomba Melukis HUT ke-27 Bireuen

Mahasiswa UIA Juara 1 Lomba Melukis HUT ke-27 Bireuen

October 5, 2026
Kapan Kapal Roro Aceh-Penang Berlayar KBRI Kuala Lumpur Tinjau Kesiapan Pelabuhan Krueng Geukueh

Kapan Kapal Roro Aceh-Penang Berlayar? KBRI Kuala Lumpur Tinjau Kesiapan Pelabuhan Krueng Geukueh

October 10, 2026

EDITOR'S PICK

sulaiman tripa

Malam Puasa 20, Memastikan Selalu Evaluasi Diri

March 20, 2025
Menaker: Perjanjian Kerja Bersama Harus Dikawal, Tantangan Ada pada Implementasi

Indonesia Bawa Ratifikasi ILO 188 ke Jenewa, Perlindungan Awak Kapal Perikanan Diperkuat

June 8, 2026
4 Calon Rektor UIN Ar-Raniry Paparkan Visi, Senat Beri Pertimbangan Kualitatif

4 Calon Rektor UIN Ar-Raniry Paparkan Visi, Senat Beri Pertimbangan Kualitatif

May 1, 2026
Banjir Aceh Tamiang Parah, Mualem Datang Tengah Malam Antar Bantuan

Banjir Aceh Tamiang Parah, Mualem Datang Tengah Malam Antar Bantuan

December 4, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.