Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi /Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh
Ada satu gejala yang semakin sering saya temukan dalam berbagai perjumpaan di Aceh. Gejala ini tidak mudah dikenali karena berlangsung tanpa suara, tanpa konflik, bahkan sering tersembunyi di balik ramainya kegiatan, banyaknya komunitas, dan semakin luasnya akses terhadap teknologi.
Kita tidak sedang kekurangan orang berbakat. Kita juga tidak kekurangan seniman, guru, peneliti, pelaku usaha, pekerja kreatif, atau anak-anak muda yang ingin melakukan sesuatu. Yang mulai langka justru hubungan yang memungkinkan pengalaman berpindah dari mereka yang telah berjalan kepada mereka yang baru memulai. Di situlah letak perbedaan kumpulan orang berbakat dan sebuah peradaban.
Peradaban tidak lahir hanya karena hadir orang-orang hebat. Ia bertahan karena sebuah masyarakat memiliki cara untuk mewariskan pengetahuan, etos, cara berpikir, dan keberanian kepada generasi berikutnya. Ketika mata rantai itu melemah, masyarakat masih dapat menghasilkan banyak kegiatan, tetapi semakin sedikit manusia yang benar-benar bertumbuh.
Aceh pernah memiliki mekanisme pewarisan seperti itu. Didong di Gayo, Dendang Sikambang di Kepulauan Banyak, hikayat, seni tutur, hingga berbagai praktik kebudayaan lain tidak sekadar menghasilkan pertunjukan. Semua itu merupakan cara masyarakat memindahkan pengalaman hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam syair tersimpan pengetahuan. Di dalam irama tersimpan cara membaca perubahan. Di dalam perjumpaan tersimpan pendidikan karakter yang tidak pernah ditulis dalam kurikulum.
Hari ini sebagian besar tradisi itu masih dapat kita saksikan. Festival tetap berlangsung. Pertunjukan masih digelar. Dokumentasi semakin banyak. Yang patut kita tanyakan justru hal yang lebih mendasar: apakah pengetahuan yang dikandungnya masih berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya?
Kebudayaan tidak selalu lenyap ketika bentuknya berubah. Yang lebih sering terjadi, ia perlahan kehilangan daya ketika masyarakat tidak lagi memahami alasan mengapa tradisi itu pernah lahir.
Persoalan serupa juga mulai terlihat dalam dunia pendidikan dan kreativitas. Kecerdasan buatan kini mampu membantu menghasilkan ilustrasi, musik, video, rancangan desain, bahkan tulisan dalam hitungan detik. Kemampuan teknis tidak lagi menjadi sesuatu yang langka. Yang justru semakin bernilai adalah sesuatu yang tidak dapat diproduksi mesin: pengalaman hidup, empati, intuisi, pertimbangan moral, kemampuan membaca konteks, dan keberanian mengambil keputusan.
Di tengah perubahan seperti ini, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup lagi diukur dari seberapa banyak informasi yang dipindahkan kepada mahasiswa atau siswa. Yang lebih penting adalah apakah pendidikan masih mampu membentuk manusia yang memiliki kedalaman berpikir dan kepekaan terhadap kehidupan. Teknologi dapat mempercepat proses berkarya, tetapi tidak dapat menggantikan proses menjadi manusia.
Aceh juga pernah memperoleh pelajaran yang sama melalui sejarah Arun. Selama bertahun-tahun, kekayaan alam menghadirkan optimisme, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan besar. Namun waktu kemudian menunjukkan bahwa sumber daya tidak otomatis melahirkan masyarakat yang lebih siap menghadapi masa depan. Cadangan energi dapat habis. Industri dapat berpindah. Investasi dapat berubah arah. Yang menentukan keberlanjutan sebuah daerah bukan apa yang berhasil diambil dari perut bumi, melainkan apa yang berhasil dibangun di dalam manusianya.
Karena itu, ketika Aceh kembali menghadapi peluang besar melalui berbagai investasi dan pengembangan sumber daya, pertanyaan yang paling mendasar bukanlah berapa besar nilai ekonominya. Pertanyaannya adalah: apakah momentum ini sedang menghasilkan generasi yang lebih cakap, lebih kreatif, lebih tangguh, dan lebih siap memimpin zamannya?
Barangkali di sinilah relevansi ikhtiar seperti Skate Park Stage (SPS) Revival dan Darud Dunia perlu mendapatkan dukungan penuh bangsa Aceh, khususnya warga Kota Banda Aceh. Ia tidak lahir karena Aceh kekurangan festival. Ia tidak dibangun karena kita memerlukan satu lagi organisasi. Yang hendak dijawab adalah persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana mempertemukan kembali pengalaman, pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Karena itu SPS Revival tidak dimulai dari panggung, melainkan dari perjumpaan. Bukan perjumpaan yang berhenti sebagai seremoni, tetapi yang memungkinkan seorang pelajar berbicara dengan seniman, mahasiswa berdiskusi dengan akademisi, penggerak komunitas belajar dari pelaku usaha, pekerja kreatif bertemu pendidik, dan generasi muda memperoleh kesempatan mendengar pengalaman yang selama ini hanya mereka baca dari kejauhan. Dari kebutuhan itulah lahir gagasan Lingkar Wali Perjumpaan untuk amanah SPS Revival dan Darud Dunia.
Istilah wali di sini tidak dimaksudkan sebagai simbol kehormatan, apalagi struktur kekuasaan. Ia lebih dekat kepada makna penjaga amanah: orang-orang yang bersedia memastikan pengalaman tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sebagian menjaga arah kebudayaan dan diplomasi budaya, seperti Rafly Kande. Sebagian menghubungkan pengetahuan dengan ruang hidup masyarakat, seperti Dr. Izziah Hasan. Sebagian lain menguatkan kapasitas manusia melalui pendampingan psikologis, sebagaimana Yuni Hendarmini yang selama bertahun-tahun mendampingi masyarakat menghadapi trauma, kehilangan, dan pemulihan pascabencana.
Ada yang mengembangkan pemberdayaan ekonomi komunitas seperti Mussanurvan. Ada yang membuka ruang tumbuh bagi anak-anak melalui pendidikan seni seperti Novirela Minang Sari. Ada yang merawat literasi, dokumentasi, dan memori kolektif seperti Ahmad Arif dan Muhrain. Ada yang menghubungkan gerakan dengan media dan jejaring publik seperti Taufik Maroe. Ada pula yang menjaga denyut budaya urban agar tetap menjadi ruang tumbuh generasi baru seperti Nainunis. Figur lain datang dari desain komunikasi visual, industri kreatif, riset, kewirausahaan, hingga pengembangan ruang publik. Mereka tidak dipertemukan untuk menjadi pusat perhatian. Mereka dipertemukan agar pengalaman panjang yang mereka miliki tidak berhenti sebagai prestasi pribadi, melainkan berubah menjadi jalan yang dapat dilalui lebih banyak orang.
Mungkin inilah pekerjaan paling mendesak bagi Aceh hari ini. Bukan memperbanyak acara. Bukan memperbesar panggung. Melainkan membangun kembali cara sebuah masyarakat mewariskan dirinya.
Kekayaan alam dapat dicari. Infrastruktur dapat dibangun kembali. Yang jauh lebih sulit dipulihkan adalah mata rantai pengetahuan yang terputus. Ketika itu terjadi, setiap generasi dipaksa belajar kembali dari awal, seolah tidak pernah ada pengalaman yang diwariskan sebelumnya.
Aceh tidak kekurangan orang hebat. Yang masih harus diperjuangkan adalah bagaimana orang-orang itu saling menemukan, saling menguatkan, dan memastikan bahwa pengalaman hidup mereka tidak ikut berakhir bersama usia mereka. Tidak ada peradaban yang bertahan hanya karena memiliki orang-orang hebat. Peradaban bertahan karena orang-orang hebat itu memilih untuk tidak berjalan sendirian. Mereka membuka jalan, membagikan pengalaman, dan menyiapkan penerus yang kelak mampu melampaui dirinya. Di sanalah sesungguhnya masa depan Aceh sedang dipertaruhkan.




















