• Tentang Kami
Wednesday, August 26, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

Catatan tentang Pengetahuan, Kreativitas, dan Masa Depan Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
July 8, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Ari J. Palawi. Foto: Arsip

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi /Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh

Ada satu gejala yang semakin sering saya temukan dalam berbagai perjumpaan di Aceh. Gejala ini tidak mudah dikenali karena berlangsung tanpa suara, tanpa konflik, bahkan sering tersembunyi di balik ramainya kegiatan, banyaknya komunitas, dan semakin luasnya akses terhadap teknologi.

Kita tidak sedang kekurangan orang berbakat. Kita juga tidak kekurangan seniman, guru, peneliti, pelaku usaha, pekerja kreatif, atau anak-anak muda yang ingin melakukan sesuatu. Yang mulai langka justru hubungan yang memungkinkan pengalaman berpindah dari mereka yang telah berjalan kepada mereka yang baru memulai. Di situlah letak perbedaan kumpulan orang berbakat dan sebuah peradaban.

BACA JUGA

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

Ranup Lam Puan: Tradisi yang Terus Bertumbuh

Peradaban tidak lahir hanya karena hadir orang-orang hebat. Ia bertahan karena sebuah masyarakat memiliki cara untuk mewariskan pengetahuan, etos, cara berpikir, dan keberanian kepada generasi berikutnya. Ketika mata rantai itu melemah, masyarakat masih dapat menghasilkan banyak kegiatan, tetapi semakin sedikit manusia yang benar-benar bertumbuh.

Aceh pernah memiliki mekanisme pewarisan seperti itu. Didong di Gayo, Dendang Sikambang di Kepulauan Banyak, hikayat, seni tutur, hingga berbagai praktik kebudayaan lain tidak sekadar menghasilkan pertunjukan. Semua itu merupakan cara masyarakat memindahkan pengalaman hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam syair tersimpan pengetahuan. Di dalam irama tersimpan cara membaca perubahan. Di dalam perjumpaan tersimpan pendidikan karakter yang tidak pernah ditulis dalam kurikulum.

Hari ini sebagian besar tradisi itu masih dapat kita saksikan. Festival tetap berlangsung. Pertunjukan masih digelar. Dokumentasi semakin banyak. Yang patut kita tanyakan justru hal yang lebih mendasar: apakah pengetahuan yang dikandungnya masih berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya?

Kebudayaan tidak selalu lenyap ketika bentuknya berubah. Yang lebih sering terjadi, ia perlahan kehilangan daya ketika masyarakat tidak lagi memahami alasan mengapa tradisi itu pernah lahir.

Persoalan serupa juga mulai terlihat dalam dunia pendidikan dan kreativitas. Kecerdasan buatan kini mampu membantu menghasilkan ilustrasi, musik, video, rancangan desain, bahkan tulisan dalam hitungan detik. Kemampuan teknis tidak lagi menjadi sesuatu yang langka. Yang justru semakin bernilai adalah sesuatu yang tidak dapat diproduksi mesin: pengalaman hidup, empati, intuisi, pertimbangan moral, kemampuan membaca konteks, dan keberanian mengambil keputusan.

Di tengah perubahan seperti ini, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup lagi diukur dari seberapa banyak informasi yang dipindahkan kepada mahasiswa atau siswa. Yang lebih penting adalah apakah pendidikan masih mampu membentuk manusia yang memiliki kedalaman berpikir dan kepekaan terhadap kehidupan. Teknologi dapat mempercepat proses berkarya, tetapi tidak dapat menggantikan proses menjadi manusia.

Aceh juga pernah memperoleh pelajaran yang sama melalui sejarah Arun. Selama bertahun-tahun, kekayaan alam menghadirkan optimisme, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan besar. Namun waktu kemudian menunjukkan bahwa sumber daya tidak otomatis melahirkan masyarakat yang lebih siap menghadapi masa depan. Cadangan energi dapat habis. Industri dapat berpindah. Investasi dapat berubah arah. Yang menentukan keberlanjutan sebuah daerah bukan apa yang berhasil diambil dari perut bumi, melainkan apa yang berhasil dibangun di dalam manusianya.

Karena itu, ketika Aceh kembali menghadapi peluang besar melalui berbagai investasi dan pengembangan sumber daya, pertanyaan yang paling mendasar bukanlah berapa besar nilai ekonominya. Pertanyaannya adalah: apakah momentum ini sedang menghasilkan generasi yang lebih cakap, lebih kreatif, lebih tangguh, dan lebih siap memimpin zamannya?

Barangkali di sinilah relevansi ikhtiar seperti Skate Park Stage (SPS) Revival dan Darud Dunia perlu mendapatkan dukungan penuh bangsa Aceh, khususnya warga Kota Banda Aceh. Ia tidak lahir karena Aceh kekurangan festival. Ia tidak dibangun karena kita memerlukan satu lagi organisasi. Yang hendak dijawab adalah persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana mempertemukan kembali pengalaman, pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu SPS Revival tidak dimulai dari panggung, melainkan dari perjumpaan. Bukan perjumpaan yang berhenti sebagai seremoni, tetapi yang memungkinkan seorang pelajar berbicara dengan seniman, mahasiswa berdiskusi dengan akademisi, penggerak komunitas belajar dari pelaku usaha, pekerja kreatif bertemu pendidik, dan generasi muda memperoleh kesempatan mendengar pengalaman yang selama ini hanya mereka baca dari kejauhan. Dari kebutuhan itulah lahir gagasan Lingkar Wali Perjumpaan untuk amanah SPS Revival dan Darud Dunia.

Istilah wali di sini tidak dimaksudkan sebagai simbol kehormatan, apalagi struktur kekuasaan. Ia lebih dekat kepada makna penjaga amanah: orang-orang yang bersedia memastikan pengalaman tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sebagian menjaga arah kebudayaan dan diplomasi budaya, seperti Rafly Kande. Sebagian menghubungkan pengetahuan dengan ruang hidup masyarakat, seperti Dr. Izziah Hasan. Sebagian lain menguatkan kapasitas manusia melalui pendampingan psikologis, sebagaimana Yuni Hendarmini yang selama bertahun-tahun mendampingi masyarakat menghadapi trauma, kehilangan, dan pemulihan pascabencana.

Ada yang mengembangkan pemberdayaan ekonomi komunitas seperti Mussanurvan. Ada yang membuka ruang tumbuh bagi anak-anak melalui pendidikan seni seperti Novirela Minang Sari. Ada yang merawat literasi, dokumentasi, dan memori kolektif seperti Ahmad Arif dan Muhrain. Ada yang menghubungkan gerakan dengan media dan jejaring publik seperti Taufik Maroe. Ada pula yang menjaga denyut budaya urban agar tetap menjadi ruang tumbuh generasi baru seperti Nainunis. Figur lain datang dari desain komunikasi visual, industri kreatif, riset, kewirausahaan, hingga pengembangan ruang publik. Mereka tidak dipertemukan untuk menjadi pusat perhatian. Mereka dipertemukan agar pengalaman panjang yang mereka miliki tidak berhenti sebagai prestasi pribadi, melainkan berubah menjadi jalan yang dapat dilalui lebih banyak orang.

Mungkin inilah pekerjaan paling mendesak bagi Aceh hari ini. Bukan memperbanyak acara. Bukan memperbesar panggung. Melainkan membangun kembali cara sebuah masyarakat mewariskan dirinya.

Kekayaan alam dapat dicari. Infrastruktur dapat dibangun kembali. Yang jauh lebih sulit dipulihkan adalah mata rantai pengetahuan yang terputus. Ketika itu terjadi, setiap generasi dipaksa belajar kembali dari awal, seolah tidak pernah ada pengalaman yang diwariskan sebelumnya.

Aceh tidak kekurangan orang hebat. Yang masih harus diperjuangkan adalah bagaimana orang-orang itu saling menemukan, saling menguatkan, dan memastikan bahwa pengalaman hidup mereka tidak ikut berakhir bersama usia mereka. Tidak ada peradaban yang bertahan hanya karena memiliki orang-orang hebat. Peradaban bertahan karena orang-orang hebat itu memilih untuk tidak berjalan sendirian. Mereka membuka jalan, membagikan pengalaman, dan menyiapkan penerus yang kelak mampu melampaui dirinya. Di sanalah sesungguhnya masa depan Aceh sedang dipertaruhkan.

Tags: AcehAri J. PalawiKreativitasMasa Depan AcehopiniPengetahuanPeradaban
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?
SENI

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

by SAGOE TV
August 24, 2026
Ranup Lam Puan Tradisi yang Terus Bertumbuh
SENI

Ranup Lam Puan: Tradisi yang Terus Bertumbuh

by SAGOE TV
August 21, 2026
Makna Juang, Antara Hamlet dan Teuku Umar_Azril Ihksan
SENI

Makna Juang, Antara Hamlet dan Teuku Umar

by SAGOE TV
August 19, 2026
SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya
SENI

SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

by SAGOE TV
August 18, 2026
Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun
SENI

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

by SAGOE TV
August 7, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026
Ranup Lam Puan Tradisi yang Terus Bertumbuh

Ranup Lam Puan: Tradisi yang Terus Bertumbuh

August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

August 20, 2026
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

August 24, 2026
Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

August 25, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

August 23, 2026
Merawat Kuliner Khas Aceh: Gulai Eungkot Paya

Merawat Kuliner Khas Aceh: Gulai Eungkot Paya

August 25, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

August 18, 2026
Teuku Andie, Vokalis Seuramoe Reggae, Meninggal Dunia

Teuku Andie, Vokalis Seuramoe Reggae, Meninggal Dunia

August 25, 2026

EDITOR'S PICK

Prabowo Cerita Hibahkan 90 Ribu Hektare Lahan di Aceh untuk Konservasi Gajah

Prabowo Cerita Hibahkan 90 Ribu Hektare Lahan di Aceh untuk Konservasi Gajah

July 21, 2025
140 Dosen Pemula di Aceh Ikuti PKDP 2026 di UIN Ar-Raniry, Perkuat Kompetensi di Era AI

140 Dosen Pemula di Aceh Ikuti PKDP 2026 di UIN Ar-Raniry, Perkuat Kompetensi di Era AI

June 18, 2026
Ihwal Belajar Mengenali Negara Malaysia

Ihwal Belajar Mengenali Negara Malaysia

March 24, 2025
Kerancuan Pikiran Jarang Disadari Pengajar Ilmu Logika

Kerancuan Pikiran Jarang Disadari Pengajar Ilmu Logika

March 20, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.