• Tentang Kami
Wednesday, September 2, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

SAGOE TV by SAGOE TV
September 2, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak. (Ilustrasi AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Fajri, S.Pd.I, M.Ag
Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Bayangkan seorang anak Aceh berusia 16 tahun. Ia sudah melewati sekolah dasar. Ia juga sudah menyelesaikan SMP. Namun ketika teman-temannya bersiap mengenakan seragam putih abu-abu, ia justru mulai memikirkan hal lain: membantu orang tua bekerja. Bukan karena ia membenci sekolah. Bukan pula karena ia tidak punya cita-cita. Bisa jadi karena di rumah ada kebutuhan yang harus dipenuhi dan peran yang memaksa harus dipilih

Di atas kertas, sekolah mungkin gratis. Tetapi untuk tetap bersekolah, ada ongkos yang harus dibayar. Seragam, buku, transportasi, uang saku, akses internet, hingga biaya hidup bagi anak yang harus tinggal jauh dari sekolah. Ada pula ongkos yang tidak pernah tercatat dalam kuitansi: kesempatan anak untuk bekerja dan membantu keluarganya.

BACA JUGA

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

Di sinilah pendidikan Aceh perlu dilihat dengan kacamata yang sedikit berbeda. Selama ini kita cukup bangga ketika melihat hampir semua anak usia sekolah dasar berada di bangku sekolah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak usia 7–12 tahun di Aceh mencapai 99,42 persen pada 2024. Pada usia 13–15 tahun, angkanya masih 97,77 persen. Tetapi ketika memasuki usia 16–18 tahun, angkanya turun menjadi 81,55 persen.

Angka itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Ke mana anak-anak yang lain? Ada sekitar 18,45 persen anak usia 16–18 tahun yang tidak tercermin dalam angka partisipasi sekolah tersebut. Mereka bukan sekadar angka. Mereka adalah anak-anak yang sedang berada pada usia menentukan masa depan.

Ada yang mungkin bekerja. Ada yang membantu orang tua. Ada yang terkendala jarak. Ada yang menikah. Ada yang kehilangan minat belajar. Ada pula yang mungkin tidak melihat sekolah sebagai jalan yang cukup menjanjikan bagi kehidupannya.

Kita tidak boleh menyederhanakan semuanya menjadi persoalan kemiskinan. Namun kita juga tidak boleh berpura-pura bahwa kondisi ekonomi tidak berpengaruh terhadap keputusan sebuah keluarga mempertahankan anak di sekolah.

Sebab ketika anak masih berusia tujuh tahun, keluarga mungkin berpikir bagaimana memasukkannya ke sekolah. Ketika anak berusia tujuh belas tahun, pertanyaannya bisa berubah: apakah ia masih harus sekolah atau sudah waktunya membantu keluarga?

Di situlah pendidikan bertemu dengan realitas kehidupan. Anak usia 16 atau 17 tahun sudah cukup kuat untuk bekerja. Ia bisa membantu di kebun, berdagang, bekerja di warung, menjadi buruh, atau masuk ke berbagai pekerjaan informal.

Sementara sekolah menawarkan sesuatu yang berbeda: masa depan yang belum terlihat hasilnya. Keluarga akhirnya berhadapan dengan pilihan yang tidak selalu mudah. Hari ini atau masa depan? Pendapatan sekarang atau pendidikan yang manfaatnya baru mungkin dirasakan beberapa tahun kemudian?

Dalam ekonomi, ada istilah biaya kesempatan. Ketika seorang anak memilih tetap sekolah, ada kesempatan memperoleh penghasilan yang harus dilepaskan. Bagi keluarga yang mapan, pilihan itu mungkin tidak terlalu berat. Tetapi bagi keluarga yang hidup dengan pendapatan terbatas, pilihan tersebut dapat menjadi persoalan serius.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika mengatakan seorang anak putus sekolah karena tidak menghargai pendidikan. Jangan-jangan kita terlalu cepat menilai anak dari ruang kelas, sementara ia menghadapi persoalan kehidupan yang tidak pernah masuk ke dalam buku pelajaran.

Di sinilah pekerjaan rumah pendidikan Aceh menjadi lebih besar. Tugas pendidikan bukan lagi sekadar memastikan anak masuk sekolah. Tugas berikutnya adalah membuat mereka ingin dan mampu bertahan di sekolah.

Anak harus menemukan alasan mengapa ia perlu terus belajar. Ia harus melihat bahwa matematika, bahasa, sains, keterampilan, bahkan pelajaran yang sering dianggap membosankan, memiliki hubungan dengan kehidupan yang akan dijalaninya di masa depan.

Pun demikian halnya dengan Pendidikan menengah tidak cukup hanya menghasilkan ijazah. Ia harus memberi bekal. Jika sekolah hanya menawarkan ijazah, sementara dunia di luar sekolah menawarkan uang yang bisa diterima hari itu juga, kita tidak boleh heran jika sebagian anak mulai membandingkan keduanya.

Karena itu, pendidikan menengah di Aceh perlu semakin dekat dengan kehidupan. Pendidikan vokasi harus diperkuat. Keterampilan harus dihargai. Dunia sekolah perlu lebih terhubung dengan dunia kerja tanpa menjadikan sekolah sekadar tempat mencetak tenaga kerja. Anak harus diberi keyakinan bahwa belajar hari ini tidak membuatnya kehilangan kesempatan untuk hidup lebih baik esok hari.

Hardikda seharusnya tidak hanya menjadi hari untuk merayakan keberhasilan pendidikan Aceh. Hardikda juga semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya lebih keras. Kita boleh bangga dengan APS 99,42 persen pada usia 7–12 tahun. Kita juga patut mengapresiasi angka 97,77 persen pada usia 13–15 tahun. Tetapi kita tidak boleh menutup mata ketika angka itu turun menjadi 81,55 persen pada usia 16–18 tahun.

Sebab di antara angka 97,77 dan 81,55 persen itu ada anak-anak yang perjalanan pendidikannya mulai terhenti. Kita tidak cukup hanya menghitung berapa banyak anak yang masuk sekolah. Kita juga harus menghitung berapa banyak yang bertahan, berapa banyak yang menyelesaikan pendidikan, dan yang lebih penting: berapa banyak yang benar-benar memperoleh kemampuan untuk mengubah masa depannya.

Sekolah boleh gratis. Tetapi perjalanan menuju sekolah tidak selalu gratis. Bertahan di sekolah juga tidak selalu mudah. Dan meyakinkan sebuah keluarga bahwa pendidikan masih layak diperjuangkan, kadang-kadang membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah.

Di situlah masa depan pendidikan Aceh dipertaruhkan. Bukan hanya pada jumlah gedung sekolah yang berdiri, tetapi pada berapa banyak anak yang berhasil kita jaga agar tidak berhenti berjalan sebelum sampai ke pintu masa depannya.

Baca juga: Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh

Tags: 2026AcehGratisHardikdaopinipendidikanRefleksiSekolah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal
Opini

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

by SAGOE TV
August 18, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

August 27, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

August 27, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026

EDITOR'S PICK

Satia, sagoe.id

Mengurai Sinergi dalam Pengelolaan Pendidikan Aceh

March 24, 2025
Aceh Dua Dekade Damai: Seremoni Berlimpah, Substansi Terlupa

Apakah Aceh Berani Istimewa?

May 15, 2025
Mahasiswi Fast Track USK Publikasikan Riset di Jurnal Scopus Q2, Raih Bebas Sidang Tesis

Mahasiswi Fast Track USK Publikasikan Riset di Jurnal Scopus Q2, Raih Bebas Sidang Tesis

July 9, 2026
69 Titik di 23 Kabupaten/Kota, Pasar Murah Aceh Diserbu Warga Jelang Ramadhan

69 Titik di 23 Kabupaten/Kota, Pasar Murah Aceh Diserbu Warga Jelang Ramadhan

February 17, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.