• Tentang Kami
Monday, July 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pernikahan Dini, Tantangan dan Dampaknya terhadap Ketahanan Keluarga

Mustafa Marwidin by Mustafa Marwidin
March 16, 2025
in Podcast
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pernikahan Dini, Tantangan dan Dampaknya terhadap Ketahanan Keluarga

Podcast bersama Laila Juari, anggota Komite RPuK, dan Rukiyah Hanum, Ketua Majelis Hukum dan HAM PWA Aisyiyah. Foto: dok. SagoeTV

Share on FacebookShare on Twitter

SAGOETV | BANDA ACEH – Pernikahan di usia muda kerap menjadi perdebatan di masyarakat. Sebagian berpendapat bahwa menikah lebih awal dapat memengaruhi masa depan seseorang, baik dari segi pendidikan, karier, maupun kesehatan mental. Namun, tak sedikit yang meyakini bahwa menikah muda memberikan kesempatan membangun keluarga lebih dini dan tumbuh bersama pasangan.

Sebelum memutuskan menikah di usia muda, ada beberapa aspek penting yang perlu dipertimbangkan, terutama kesiapan mental dan emosional. Lantas, berapa usia ideal untuk menikah? Pertanyaan ini menjadi topik diskusi dalam podcast yang menghadirkan Laila Juari, anggota Komite RPuK, serta Rukiyah Hanum, Ketua Majelis Hukum dan HAM PWA Aisyiyah dipandu oleh Host Ihan Nurdin, Jumat (14/3/2025).

BACA JUGA

Krisis Identitas Generasi Muda Aceh, Terjebak Algoritma dan Kian Asing dengan Budaya Sendiri

Dunia Digital Kian Ruwet, Ulama dan Pakar Adat Aceh Serukan Penguatan ‘Pageu Gampong’ dan Benteng Keluarga

Gerakan perempuan telah berlangsung sejak lama. International Women’s Day (IWD) pertama kali diperingati di Amerika Serikat pada abad ke-19 dan terus menjadi agenda internasional hingga kini. Ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan masih relevan.

Gerakan ini bermula dari isu diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami perempuan, khususnya di dunia kerja. Pada awal abad ke-19 dan 20, buruh perempuan di Eropa dan Amerika menghadapi kesenjangan upah yang signifikan dibanding laki-laki, meski bekerja dalam jam yang sama atau lebih lama. Di Amerika, perempuan bahkan tidak memiliki hak pilih dalam pemilu.

Di Indonesia dan Aceh, isu ketidaksetaraan gender masih menjadi tantangan. Berbagai persoalan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, dan diskriminasi masih kerap terjadi. Peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi momentum refleksi dan perjuangan agar perempuan mendapatkan hak yang lebih setara.

Ketahanan Keluarga dan Literasi Digital

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, komunitas perempuan di Aceh berkolaborasi dalam berbagai kegiatan, termasuk diskusi yang diselenggarakan oleh Sago TV dan Balai Sura Urung Inong Aceh. Salah satu tema yang diangkat adalah ketahanan keluarga dan literasi digital, dua isu yang dianggap sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Ketahanan keluarga menjadi perhatian utama karena erat kaitannya dengan perlindungan perempuan. Sementara itu, literasi digital dinilai penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu perempuan, terutama dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023, enam kabupaten di Aceh mencatat angka pernikahan dini yang cukup tinggi, yaitu Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Subulussalam, Gayo Lues, dan Aceh Barat. Jumlah kasus pernikahan dini di daerah tersebut mencapai 4.106 kasus.

Tingginya angka pernikahan dini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa fenomena ini masih tinggi? Secara psikologis, anak-anak yang menikah dini belum memiliki kesiapan untuk membangun rumah tangga. Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan isu ini secara luas agar masyarakat lebih sadar akan dampaknya.

Secara hukum, seseorang dikategorikan sebagai anak jika berusia di bawah 18 tahun. Namun, di banyak daerah, praktik pernikahan anak masih marak terjadi.

Anak-anak yang menikah dini kerap belum matang secara psikologis maupun biologis. Mereka masih berada dalam fase perkembangan dan belum siap menghadapi kompleksitas kehidupan berumah tangga. Dalam beberapa kasus, anak-anak bahkan dinikahkan dengan pasangan yang jauh lebih tua. Penelitian di Aceh Utara menemukan bahwa dari enam keluarga yang diteliti, dua kasus pernikahan anak terjadi akibat perkosaan, sementara empat lainnya dilatarbelakangi faktor kemiskinan.

Dalam banyak kasus, pernikahan anak dijadikan solusi ekonomi bagi keluarga. Namun, keputusan ini sering kali berujung pada masalah yang lebih besar, seperti penelantaran keluarga, poligami, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pada kasus di mana suami jauh lebih tua, kekerasan dalam rumah tangga lebih banyak terjadi. Selain itu, anak perempuan yang menikah akibat perkosaan sering menghadapi stigma sosial yang justru memperburuk kondisi mereka.

Tingginya angka pernikahan anak di Aceh beriringan dengan tingginya angka kematian ibu dan bayi. Beberapa daerah dengan angka pernikahan anak tinggi, seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bireuen, juga mencatatkan kasus kematian ibu dan bayi yang lebih tinggi dibanding daerah lain. Ini menunjukkan adanya korelasi antara pernikahan usia dini dan risiko kesehatan yang serius.

Pendidikan sebagai Solusi

Kurangnya pendidikan menjadi faktor utama yang mendorong pernikahan anak. Jika orang tua tidak memiliki pemahaman yang cukup, mereka cenderung mengulangi pola yang sama dengan menikahkan anak mereka di usia dini.

Pendidikan tentang kesehatan reproduksi perlu diperkuat, bukan dalam konteks mengajarkan hubungan seksual, melainkan untuk memberikan pemahaman tentang tubuh, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, serta risiko yang ditimbulkan oleh pernikahan dini.

Di era digital, tantangan semakin besar. Anak-anak dengan mudah mengakses informasi melalui media sosial, tetapi tanpa pendampingan yang memadai, risiko yang dihadapi juga semakin besar. Ironisnya, dalam kondisi seperti ini, sebagian anak justru dinikahkan, padahal mereka belum memiliki kemampuan untuk menyeleksi informasi digital, apalagi menjalankan tanggung jawab dalam rumah tangga.

Pernikahan anak bukanlah solusi, melainkan pemicu berbagai permasalahan, baik dari segi ekonomi, kesehatan, maupun sosial. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan keluarga dalam meningkatkan kesadaran serta kualitas pendidikan. Dengan demikian, pernikahan anak dapat dicegah dan ketahanan keluarga semakin kuat.

Tingginya angka kekerasan seksual menjadi perhatian serius. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap hal ini adalah akses yang tidak terkontrol terhadap konten yang tidak layak bagi anak-anak. Kurangnya pendampingan dari orang tua dalam mengakses media digital memperburuk keadaan.

Keluarga memiliki peran sentral dalam mengedukasi anak-anak mengenai pemanfaatan media digital secara bijak. Teknologi memang memudahkan akses informasi, tetapi tanpa bimbingan, risikonya semakin besar. Oleh karena itu, diskusi tentang literasi digital dan pencegahan pernikahan anak harus terus digalakkan guna membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. []

Tags: AnakKeluargaperempuanPernikahan Dinipodcastsagoetvwomen
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Mustafa Marwidin

Mustafa Marwidin

Sarjana Komunikasi UIN Ar-Raniry dan Jurnalis sagoetv.com

Related Posts

Krisis Identitas Generasi Muda Aceh, Terjebak Algoritma dan Kian Asing dengan Budaya Sendiri
Podcast

Krisis Identitas Generasi Muda Aceh, Terjebak Algoritma dan Kian Asing dengan Budaya Sendiri

by SAGOE TV
June 30, 2026
Dunia Digital Kian Ruwet, Ulama dan Pakar Adat Aceh Serukan Penguatan Pageu Gampong dan Benteng Keluarga
Podcast

Dunia Digital Kian Ruwet, Ulama dan Pakar Adat Aceh Serukan Penguatan ‘Pageu Gampong’ dan Benteng Keluarga

by SAGOE TV
June 30, 2026
Darurat Predator Digital dan Lonjakan HIV di Banda Aceh
Podcast

Darurat Predator Digital dan Lonjakan HIV di Banda Aceh

by SAGOE TV
June 30, 2026
Jangan Asal Pamer KTP dan Paspor! Diskominfotik Banda Aceh Ingatkan Ancaman Pencurian Data
Podcast

Jangan Asal Pamer KTP dan Paspor! Diskominfotik Banda Aceh Ingatkan Ancaman Pencurian Data

by SAGOE TV
June 26, 2026
Di Tengah Stigma Intoleran, Banda Aceh Ternyata Miliki Dua Desa Sadar Kerukunan
Podcast

Di Tengah Stigma Intoleran, Banda Aceh Ternyata Miliki Dua Desa Sadar Kerukunan

by SAGOE TV
June 25, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

July 8, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

July 8, 2026
Horor Perjalanan Belum Berakhir

Horor Perjalanan Belum Berakhir

July 10, 2026
Risman Rachman.

Manajemen Solusi, Bagaimana Menerapkannnya?

March 15, 2025
Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

July 6, 2026
BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

July 10, 2026

EDITOR'S PICK

Ethnic Day FKG USK 2025 Rayakan Hari Pahlawan dengan Semangat Kepahlawanan dan Keberagaman Budaya Nusantara

Ethnic Day FKG USK 2025: Rayakan Hari Pahlawan dengan Semangat Kepahlawanan dan Keberagaman Budaya Nusantara

November 11, 2025
Mualem Bertemu Hashim Adik Prabowo, Dorong Investasi Industri di Aceh

Mualem Bertemu Hashim Adik Prabowo, Dorong Investasi Industri di Aceh

April 12, 2025
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem)

Mengapa Mualem Menyurati Prabowo? Ini Target Besar Migas Blok Andaman untuk Aceh

June 26, 2026
Untuk Pertama Kalinya, Pesawat Tempur TNI AU Mendarat di Jalan Tol Indonesia

Untuk Pertama Kalinya, Pesawat Tempur TNI AU Mendarat di Jalan Tol

February 12, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.